Tuesday, 20 July 2021

Pembelajaran Berdiferensiasi (Koneksi antar Materi)

 

Semua pengetahuan terhubung ke semua pengetahuan lainnya. Yang menyenangkan adalah membuat koneksinya.” 

(Arthur Aufderheide)

2.1.a.9. Koneksi Antar Materi - Modul 2.1

oleh Prapti Wardani-CGP ANGKATAN 2-KOTA SURABAYA


Pada kesempatan koneksi antar materi ini calon guru penggerak (CGP) ditugaskan untuk membuat kesimpulan  dan mengaitkan materi modul 2.1 tentang pembelajaran berdiferensiasi dengan materi modul-modul yang telah dipelajari sebelumnya yaitu modul 1.1 tentang filosofi dan pemikiran Ki Hadjar Dewantara, modul 1.2 tentang visi dan peran guru penggerak, modul 1.3 tentang Inkuiri apresiatif dengan pendekatan BAGJA, dan modul 1,4 tentang budaya positif di sekolah. 


Kesimpulan yang akan penulis paparkan adalah apa yang dimaksud dengan pembelajaran berdiferensiasi, apa keuntungan menerapkan pembelajaran berdiferensiasi di kelas, bagaimana cara guru merancang pembelajaran berdiferensiasi dan apa saja keuntungan jika guru menerapkan pembelajaran berdiferensiasi di kelas, penulis berupaya memaparkan kesimpulannya sebagai berikut. 


Pembelajaran berdiferensiasi adalah usaha dalam proses pembelajaran dimana guru berusaha untuk mendesain pembelajaran yang menyesuaikan kepada kebutuhan belajar dari setiap individu/murid. 

Ada 5 aspek penting dalam pembelajaran berdiferensiasi yaitu 

  1. Lingkungan belajar yang “mengundang’ murid untuk belajar.  

  2. Tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas.

  3. Penilaian berkelanjutan/ongoing assessment.

  4. Merespon kebutuhan belajar murid.

  5. Manajemen kelas yang efektif.


Bagaimanakah cara guru untuk merancang pembelajaran berdiferensiasi? Untuk merancang pembelajaran berdiferensiasi yang pertama guru harus menetapkan tujuan pembelajaran atau kompetensi yang ingin dicapai dan memetakan  secara jelas agar arah pembelajaran dapat ditentukan secara pasti kebutuhan belajar setiap murid. Ada tiga hal yang dapat dilakukan seorang guru dalam memetakan pembelajaran berdiferensiasi yaitu

  1. Kesiapan belajar murid/readiness

  2. Minat belajar

  3. Profil murid 


Pemetaan berdasarkan ketiga aspek diatas sangat menentukan ketercapaian pembelajaran berdiferensiasi. Kesiapan belajar/readiness adalah kapan kesiapan belajar murid. Guru dapat menganalisis dengan menggunakan asesmen diagnostik kognitif dimana guru dapat memetakan sampai sejauh mana murid telah menguasai materi prasyarat dan siap untuk belajar materi baru yang akan dicapai oleh murid sesuai dengan kompetensi yang sudah dirumuskan. Pemetaan minat belajar murid dapat menjadi indikator penting dalam proses pembelajaran karena akan memunculkan motivasi atau dorongan bagi murid untuk mengikuti seluruh rangkaian pembelajaran misalnya murid  yang memiliki minat membaca, menulis, sains atau olah raga.  Yang ketiga profil murid. Profil murid dapat dianalisis berdasarkan tingkatannya misalnya kecerdasaan, budaya, sosial latar belakang yang paling sering kita jumpai adalah gaya belajar murid yaitu gaya belajar visual, auditori dan kinestetik. Pemetaan gaya belajar  akan memudahkan guru dalam menentukan jenis strategi yang dapat digunakan untuk mengakomodasi kebutuhan cara belajar murid yang berbeda-beda. 


Setelah melakukan pemetaan kebutuhan belajar setiap murid selanjutnya guru akan merancang strategi pembelajaran strategi diferensiasi. Ada 3 jenis strategi diferensiasi  yang digunakan yaitu proses, produk dan konten. Strategi diferensiasi proses menekankan pada bagaimana cara murid untuk mencapai tujuan pembelajaran, misalnya saja murid yang bergaya belajar auditori dapat diberikan rekaman tentang materi pembelajaran, murid dengan gaya belajar visual dapat menggali informasi melalui modul atau video pembelajaran yang penuh dengan visualisasi atau gambar atau murid dengan gaya belajar kinestetik dapat menggali informasi melalui aktivitas fisik atau gerakan seperti percobaan, simulasi atau bermain peran. Ketika murid sudah dipetakan berdasarkan strategi proses ini maka mereka akan belajar sesuai dengan gaya belajarnya masing-masing. Yang kedua adalah strategi konten. Pada strategi konten ini didasarkan pada kesiapan belajar murid di mana bahan ajar yang disediakan oleh guru sudut dipetakan mulai dari yang sederhana ke kompleks, konkrit ke abstrak, bahan ajar yang bersifat fundamental  atau mendasar ke bahan ajar yang bersifat transformatif. Hal ini tentu didukung oleh bantuan dari guru ataupun melalui scaffolding. Yang ketiga adalah strategi diferensiasi produk. Pada strategi produk guru dan murid akan merancang produk apa yang akan dibuat oleh murid untuk mendemonstrasikan capaian hasil belajarnya yang dimiliki murid misalnya murid yang memiliki gaya belajar visual akan membuat infografis, mind mapping atau sejenisnya yang berhubungan dengan visualisasi. Murid dengan gaya belajar auditori akan mempresentasikan hasil belajarnya melalui rekaman broadcast, lagu, puisi dan lainnya. Murid yang bergaya belajar kinestetik dapat melakukan hasil capaian belajarnya melalui performance pada materi tertentu. 


Apapun strategi pembelajaran atau strategi berdiferensiasi yang dipilih guru haruslah mampu mementingkan kompetensi atau tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada materi tersebut. Apapun yang guru pilih dalam strategi tersebut  guru sebaiknya bisa membuat yang namanya alat penilaian atau asesmen. Asesmen yang dilakukan adalah penilaian berkelanjutan atau on going assessment dengan arti penilaian yang dilakukan dilakukan tidak hanya dilakukan di akhir pencapaian kompetensi tetapi dilakukan secara berkala untuk memberikan umpan balik, untuk mendiagnosis permasalahan murid sehingga murid dapat belajar dan mengikuti ritme pembelajaran dengan baik. Ketika merancang penilaian pada pembelajaran berdiferensiasi  apapun demonstrasi murid, apapun pencapaian belajar murid melalui media apapun yang diukur haruslah sama yaitu kompetensi dan tujuan pembelajarannya. 


Langkah terakhir yang dapat dilakukan guru adalah guru dapat merancang kegiatan pembelajaran. Mengapa pembelajaran berdiferensiasi dapat memenuhi kebutuhan belajar setiap murid? Alasan yang pertama pembelajaran berdiferensiasi  bersifat proaktif yaitu melibatkan murid dalam berbagai proses pembelajaran,  yang kedua pembelajaran berdiferensiasi berakar pada tujuan pembelajaran dan kompetensi yang ingin dicapai dan berakar pada penilaian dan alasan terakhir adalah pembelajaran berdiferensiasi menggunakan pendekatan konstruktivistik dimana pembelajaran berpusat pada murid. Alasan  lainnya adalah pembelajaran berdiferensiasi menggunakan beragam pendekatan mulai dari konten, proses dan produk. Pembelajaran berdiferensiasi juga bukanlah pembelajaran yang bersifat klasikal semata tetapi menggabungkan atau perpaduan antara pembelajaran klasikal, kelompok-kelompok kecil bahkan pembelajaran Individual. Pembelajaran berdiferensiasi bersifat organis dan dinamis artinya pembelajaran ini  mampu mengajak guru dan murid untuk merespon setiap kebutuhan yang terjadi selama proses pembelajaran.


Apa koneksi antar materi pada modul 2.1 ini dengan modul-modul lain dalam pendidikan program guru penggerak? Pembelajaran berdiferensiasi menghadirkan pembelajaran yang beragam yang memaknai bahwa setiap murid adalah unik dan beragam dan ini sesuai dengan modul 1.1 yaitu pemikiran Ki Hajar Dewantara yang menyatakan bahwa anak tumbuh dan berkembang sesuai dengan kodrat zaman dan kodrat anak dan potensinya masing-masing, pendidik hanya merawat tumbuh kembangnya potensi itu agar menjadi bermanfaat dan bahagia serta sukses di masyarakat artinya pembelajaran berdiferensiasi mengakomodasi setiap potensi murid bakat, kodrat, minat baik kodrat alam maupun kodrat zaman murid. Dan apa kaitannya dengan modul 1.2 bahwa dengan menghadirkan pembelajaran berdiferensiasi yang melibatkan murid dalam setiap proses pembelajaran artinya guru telah mampu memaksimalkan nilai dan peran guru penggerak yaitu menciptakan budaya positif bagi murid dalam proses pembelajaran dalam upaya mewujudkan Profil Pelajar Pancasila. Apa kaitanya dengan modul 1.3 yaitu tentang pendekatan inkuiri apresiatif bahwa pembelajaran berdiferensiasi tidak bisa dilakukan oleh satu orang guru saja karena seorang guru bukanlah seorang superman atau super woman tetapi pembelajaran ini dapat mengkolaborasikan antara berbagai pemangku kepentingan untuk menghadirkan pembelajaran berdiferensiasi yang memenuhi setiap kebutuhan murid yang ada di ruang kelas di sekolah masing-masing. Oleh karena itu seorang guru hendaknya segera mengaplikasikan pembelajaran berdiferensiasi di kelasnya karena pembelajaran berdiferensiasi  bukannya satu metode untuk melayani satu anak atau memberikan 32 metode untuk melayani 32 anak atau pembelajaran yang semrawut  atau pembelajaran yang memerlukan perencanaan yang banyak tetapi pembelajaran berdiferensiasi adalah the way of thinking artinya cara berpikir guru dan murid dalam merespon setiap kebutuhan dari individu yang ada di kelas. Dengan pembelajaran berdiferensiasi maka setiap murid akan merasa dihargai. Mari bersama-sama merayakan setiap pertumbuhan yang dihadapi oleh murid di kelas karena kesuksesan pembelajaran adalah kesuksesan dan pertumbuhan bagi murid, guru dan semua orang setiap individu yang ada di kelas tersebut. Demikian kesimpulan yang dapat dipahami oleh penulis tentang pembelajaran berdiferensiasi.


Monday, 28 June 2021

Berbagi Aksi Nyata (PGP-Angk2-Kota Surabaya-Prapti Wardani-1.4-Aksi Nyata)

 

Budaya Positif Sekolah sebagai Pembentukan Karakter Siswa


“Adapun maksud pendidikan yaitu: menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya” 
(dikutip dari buku Ki Hajar Dewantara seri 1 pendidikan halaman 20)


Sekolah sebagai salah satu institusi pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam pembentukan karakter siswa. Maksud pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Apa yang dikatakan bapak pendidikan kita, Ki Hadjar Dewantara, seperti kutipan di atas  mengisyaratkan kita sebagai guru untuk membangun komunitas di sekolah untuk menyiapkan murid di masa depan agar menjadi manusia berdaya tidak hanya untuk pribadi tapi berdampak pada masyarakat.

Karakter seperti apakah yang bisa menyiapkan murid menjadi manusia dan anggota masyarakat untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan seperti tujuan pendidikan sendiri. Jika kita mengacu pada Profil Pelajar Pancasila, “Pelajar Indonesia merupakan pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai nilai-nilai Pancasila.” Pelajar yang memiliki profil yang demikian itu adalah pelajar yang terbangun utuh keenam dimensi pembentuknya, yaitu: 1) beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, 2) mandiri, 3) bergotong-royong, 4) berkebinekaan global, 5) bernalar kritis, dan 6) kreatif.

Sebagai institusi pendidikan tentunya sekolah telah menyiapkan semua tujuan tersebut baik sumber daya manusia (SDM) yaitu guru-guru yang berkompeten dan sistem atau aturan yang akan mencapai tujuan mulia tersebut. Adalah kewajiban dan hal yang urgent bagi sekolah sebagai institusi pendidikan untuk membentuk karakter siswa. Sekolah melanjutkan dan mengembangkan karakter siswa yang sudah terbentuk dari keluarga untuk meningkatkan dan menguatkan karakter yang sudah baik.


Dalam institusi sekolah apa yang dimaksud budaya positif adalah nilai-nilai dan keyakinan-keyakinan yang dibangun dalam jangka waktu lama yang tercermin pada sikap keseharian seluruh komponen sekolah. Dalam kebanyakan sekolah di Indonesia, contoh budaya sekolah yang sudah berjalan dengan baik adalah budaya senyum, salam, dan sapa. Tentunya, budaya sekolah tersebut masih perlu dilaksanakan mengingat perannya yang dapat membuat sekolah menjadi lingkungan yang nyaman. 

Budaya positif di sekolah ialah  nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, dan kebiasaan-kebiasaan di sekolah yang berpihak pada murid agar murid dapat berkembang menjadi pribadi yang kritis, penuh hormat dan bertanggung jawab. Dalam mewujudkan budaya positif ini, guru memegang peranan sentral. Guru perlu memahami posisi apa yang tepat untuk dapat mewujudkan budaya positif baik lingkup kelas maupun sekolah. Selain itu, pemahaman akan disiplin positif juga diperlukan karena sebagai pamong, guru diharapkan dapat menuntun murid untuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab.


Budaya positif salah satunya adalah yang ditumbuhkan dalam lingkungan terkecil yaitu kelas. misalnya kesepakatan kelas. Upaya dalam membangun budaya positif di sekolah yang berpihak pada murid diawali dengan membentuk lingkungan kelas yang mendukung terciptanya budaya positif, yaitu dengan menyusun kesepakatan kelas. Kesepakatan kelas yang efektif dapat membantu dalam pembentukan budaya disiplin positif  di kelas. Hal ini juga dapat membantu proses belajar mengajar yang lebih mudah dan tidak menekan. Seringkali permasalahan dengan murid berkaitan dengan komunikasi antara murid dengan guru, terutama ketika murid melanggar suatu aturan dengan alasan tidak mengetahui adanya aturan tersebut. Kurang adanya komunikasi ini menyebabkan relasi murid dan guru menjadi kurang baik.

Dalam penerapan aksi nyata penulis sebagai CGP telah mengaplikasikan salah satu budaya positif baik di sekolah maupun di kelas pembelajaran. Walaupun pembelajaran saat ini masih dalam pembelajaran jarak jauh (PJJ) budaya positif tersebut tetap berjalan misalnya budaya postif yang sudah tumbuh sejak dulu seperti sebelum siswa memulai pelajaran diperdengarkan lagu Indonesia Raya untuk tetap menanamkan rasa nasionalis siswa selalu muncul dalam sikap dan tindakan nyata. Setelah itu adalah literasi yang dibimbing oleh guru mata pelajaran yang mengajar pada jam pertama.

Pada awal tahun ajaran baru sebelum semuanya dimulai penulis sebagai CGP juga telah mengaplikasikan kesepakatan kelas dalam pembelajaran jarak jauh. Pada kesepakatan kelas tersebut disusun secara bersama-sama antara guru dan siswa dan mudah dipahami dan dapat langsung dilakukan. Oleh karena itu, dalam kesepakatan kelas selalumenggunakan kalimat positif seperti, “Saling menghormati” ,“Berjalan jika berada di lorong kelas”. Kalimat positif lebih mudah dipahami murid dibandingkan kalimat negatif yang mengandung kata seperti, “dilarang” atau “tidak”. Kesepakatan dapat diperbaiki dan dikembangkan secara berkala, seperti setiap awal semester. Tujuan kesepakatan kelas antara lain: Memandu dan mengarahkan siswa dalam proses PJJ, menumbuhkan kesadaran diri untuk tetap semangat belajar, membangun komitmen diri diawal pembelajaran, menciptakan suasana PJJ yang nyaman dan menyenangkan, mewujudkan kelas belajar impian.


Kesepakatan kelas ditulis dalam bentuk poster.


 Untuk mempermudah pemahaman siswa, kesepakatan ditulis misalnya dalam bentuk poster atau disusun sedemikian rupa sehingga dapat dipahami dan disadari oleh siswa. Pada masa PJJ seperti sekarang penulis telah merekam berupa video dan telah disimpan di kelas online jadi setiap siswa dapat menonton dan guru dapat mengingatkan kembali kesepakatan kelas yang telah disepakati di video tersebut.


Budaya positif semasa PJJ dalam KBM membuat kesepakatan kelas.





Kesepakatan Kelas

Thursday, 3 June 2021

Eksplorasi Konsep - Berbagi Visi Murid Impian

             Visi adalah sesuatu yang ingin kita capai sehingga belum terjadi pada masa kini dan kita harus yakin akan dicapai di masa akan datang. Apabila kita bisa mengibaratkan visi adalah bintang penunjuk arah yang memandu penjelajah untuk mencapai tujuannya. 

Seorang calon guru penggerak diharapkan memiliki visi untuk memajukan sekolahnya, untuk sebuah perubahan di sekolahnya. Untuk membuat visi tersebut berikut adalah kerangka yang dapat digunakan menyusun sebuah visi:

  • Saya memimpikan murid-murid yang ……………………………………. 

  • Sekolah saya percaya bahwa murid adalah …………………………… 

  • Sekolah saya mengutamakan ………………………………………. 

  • Murid di sekolah saya sadar betul bahwa …………………………. 

  • Guru di sekolah saya yakin untuk ……………..…………………. 

  • Guru di sekolah saya paham bahwa ……………………………….

Dari kerangka tersebut penulis dapat melukiskan visi-visinya seperti di bawah ini.

Saya mimpikan murid-murid yang berakhlak dan berbudi luhur serta berprestasi. Di sekolah semua murid tetap melaksanakan kewajiban beribadah sesuai dengan agamanya dengan bimbingan para guru. Semua murid dapat membiasakan diri untuk bersikap sopan santun dan menerapkan etika ketimuran dengan tauladan para guru dan dapat menjadi kultur di sekolah. Semua murid dapat berprestasi menurut kemampuannya masing-masing. 

Sekolah saya percaya bahwa murid adalah anak didik yang dapat mengembangkan semua potensi yang ada dalam dirinya dengan bimbingan para guru. Setiap individu anak memiliki kemampuan dan potensi diri yang unik dan berbeda sehingga para guru dapat menggali kemampuan tersebut dengan bimbingannya.

Sekolah saya mengutamakan kepentingan murid di atas segalanya. Murid adalah aset sekolah utama yang dapat memajukan sekolah dengan semua kemampuannya. Apabila sekolah dapat mengembangkan semua potensi tersebut maka akan terwujudlah pendidikan yang diharapkan oleh sebuah negara. 

Murid di sekolah saya sadar betul bahwa  belajar dan mengembangkan potensi dirinya adalah tujuan mereka belajar di sekolah. Setiap siswa dapat merasakan bahwa sekolah adalah rumah kedua baginya sehingga terciptalah tempat belajar yang ramah siswa dimana siswa merasa nyaman dan aman secara fisik maupun secara psikologis.

Guru di sekolah saya yakin untuk dapat membimbing siswa mencapai prestasi yang diharapkan dan berkolaborasi memajukan sekolah bersama-sama. Setiap guru timbul kesadaran akan pentingnya berinteraksi dan bersosialisasi baik dengan siswa maupun berkolaborasi dengan guru lain sehingga rekan sejawat adalah rekan yang dapat menolong dirinya bukan sebagai kompetitor.

Guru di sekolah saya paham bahwa setiap siswa memiliki potensi yang berbeda.Setiap guru dapat memahami setiap individu siswa adalah unik yang memiliki segala keterbatasan dan kelebihan masing-masing sehingga setiap siswa dapat berprestasi sesuai dengan kemampuan dirinya.

Dari hasil kerangka diatas saya dapat menyimpulkan dalam beberapa visi yaitu:

  • Mewujudkan siswa yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berkarakter Indonesia.

  • Siswa adalah aset berharga sekolah yang dapat mengembangkan potensi dan kemampuan yang berbeda-beda untuk mencapai prestasi.

  • Sekolah yang berpihak kepada murid.

  • Siswa dapat memahami tujuan belajar di sekolah.

  • Guru yang memiliki loyalitas, berdedikasi dan berintegritas tinggi untuk memajukan siswa dan sekolah.

  • Guru memahami setiap siswa adalah unik dan memiliki potensi yang berbeda untuk mengembangkan dirinya.


 


Sunday, 30 May 2021

Koneksi Antar Materi - Nilai-Nilai dan Peran Guru Penggerak

Setelah mempelajari modul 1.1. mengenai dasar-dasar pemikiran dan filosofi Ki Hadjar Dewantara (KHD) dan modul 1.2. nilai-nilai dan peran guru penggerak, pada bagian tugas akhir modul 1.2. penulis mendapat tugas menyimpulkan keterkaitan kedua materi modul tersebut dalam koneksi antar materi.

Pada modul 1.2. calon guru penggerak (CGP) memahami lebih mendalam nilai-nilai dan peran apa saja yang harus dimiliki dalam dirinya. Ada 5 nilai yang harus dimiliki oleh seorang CGP yaitu mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif dan berpihak pada murid. 

Yang pertama mandiri artinya seorang CGP mampu mendorong dirinya sendiri untuk melakukan aksi serta mengambil tanggung jawab atas segala hal yang terjadi pada dirinya. Segala perubahan yang terjadi di sekitarnya maupun pada dirinya, muncul dari dirinya sendiri. Ketika seorang guru hanya menunggu sesuatu untuk terjadi, seringkali hal tersebut tidak pernah terjadi.  CGP senantiasa mampu memunculkan motivasi dalam dirinya sendiri untuk membuat perubahan baik untuk lingkungan sekitarnya ataupun pada dirinya sendiri. Hal ini terutama perlu muncul dalam aspek pengembangan dirinya. Untuk mengembangkan dirinya sendiri CGP tidak perlu menunggu tugas dari sekolah atau dinas untuk mengikuti pelatihan atau didorong oleh siapapun tapi keinginan itu muncul dalam dirinya sendiri. 

Kedua yaitu reflektif. CGP mampu senantiasa merefleksikan dan memaknai pengalaman yang terjadi di sekelilingnya, baik yang terjadi pada diri sendiri serta pihak lain. Proses perjalanan CGP menjadi guru penggerak akan memberikan pengalaman-pengalaman yang bervariasi dan pengalaman tersebut akan memberikan kesan baik positif maupun negatif. Dengan nilai reflektif tersebut seorang CGP senantiasa terbuka  menerima kritik dan saran yang membangun dari pihak lain dan mampu mengevaluasi kembali pengalaman-pengalaman tersebut, hingga bisa menjadi pembelajaran dan panduan untuk menjalankan perannya di masa mendatang. Setelah dapat mengevaluasi diharapkan akan memperkuat langkahnya sehingga hal-hal positif dapat dilanjutkan sedangkan hal-hal negatif dapat menjadi dorongan dan perbaikan untuk melangkah selanjutnya. 

Ketiga yaitu nilai kolaboratif. CGP senantiasa mampu membangun hubungan kerja yang positif terhadap seluruh pihak pemangku kepentingan yang berada di lingkungan sekolah ataupun di luar sekolah (komite sekolah/orang tua murid) dalam mencapai pembelajaran. Dalam mewujudkan Profil Pelajar Pancasila, seorang Guru Penggerak akan bertemu banyak sekali pihak yang mampu mendukung pencapaian Profil Pelajar Pancasila. Guru Penggerak diharapkan mampu merangkul semua pihak itu. CGP senantiasa mampu membangun kepercayaan dan rasa hormat dalam dirinya dan lingkungan sekitarnya dan mampu berkomunikasi dan bekerjasama dengan berbagai pihak yang memiliki peran masing-masing dalam mencapai tujuan.

Keempat yaitu inovatif. CGP mampu senantiasa memunculkan gagasan-gagasan baru dan tepat guna terkait situasi tertentu ataupun permasalahan tertentu. Gagasan atau ide juga dapat muncul dari pengalaman sebelumnya ataupun dari pihak lain. Dengan ide-ide tersebut CGP dapat mengambil solusi yang tepat terhadap permasalahan-permasalahan yang terjadi dan bahkan menjadi inspirasi bagi pihak lain yang pada akhirnya dapat melakukan aksi nyata dengan solusi tersebut.

Nilai yang terakhir yaitu berpihak pada murid. CGP selalu bergerak dengan mengutamakan kepentingan perkembangan murid sebagai acuan utama. Segala keputusan yang diambil oleh seorang Guru Penggerak didasari pembelajaran murid terlebih dahulu, bukan dirinya sendiri atau pemuasan dirinya. Sebagai Calon Guru Penggerak yang memiliki nilai ini,  harus mulai berpikir dari pertanyaan “apa yang murid butuhkan?”, “apa yang bisa saya lakukan untuk membuat proses belajar ini lebih baik?” dll. Guru Penggerak selalu mengutamakan keberpihakan pada murid adalah pedoman perilaku yang utama.

Peran utama seorang guru penggerak adalah mewujudkan profil Pelajar Pancasila. Peran-peran tersebut dapat dijabarkan antara lain menjadi pemimpin pembelajaran, menggerakkan komunitas praktisi, menjadi coach bagi guru lain, mendorong kolaborasi antar guru dan mewujudkan kepemimpinan murid. Nilai-nilai yang ada pada diri guru penggerak yaitu Mandiri, Reflektif, Kolaboratif, Inovatif, serta Berpihak pada Murid dapat berfungsi dalam menjalankan peran dan tugasnya untuk mewujudkan Profil Pelajar Pancasila  dengan enam ciri utama yaitu  beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, ber kebhinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif. Profil Pelajar Pancasila digali dari pemikiran dan filosofi KHD sehingga ada keterkaitan yang sangat erat antara nilai-nilai yang harus dimiliki seorang guru penggerak untuk mewujudkan profil Pelajar Pancasila.

Dalam usahanya untuk mencapai kelima nilai tersebut penulis telah melakukan hal-hal yang dapat memperkuat nilai-nilai tersebut yaitu membimbing siswa menjadi pembelajar yang berakhlak dan berbudi luhur, mengadakan kegiatan belajar mengajar dengan inovasi baru sesuai tuntutan zaman, mendorong siswa untuk selalu berprestasi, sebagai keberpihakan kepada murid penulis berusaha menjadi guru millennial karena penulis berusaha ikut menyelami bagaimana generasi millennial tersebut, mengajak dan mendorong rekan guru untuk selalu belajar dan berinovasi dalam kegiatan belajar-mengajar secara terus menerus.

Tentunya dalam menjalankan tugas sebagai guru penggerak tidak akan berjalan tanpa dukungan  pihak lain. Seorang guru penggerak adalah juga warga sekolah biasa yang tentunya selalu ingin mendapat dukungan dari lingkungan sekolah maupun luar sekolah. Dari lingkungan sekolah yang utama adalah para siswa itu sendiri karena tujuan dari peran guru penggerak adalah keberhasilan siswa, Selain itu adalah pengambil kebijakan sekolah yaitu kepala sekolah, komite sekolah dan yang lainnya seperti rekan guru dan karyawan sekolah. Dari luar sekolah ada 2 macam yaitu dari keluarga sendiri dan dari masyarakat (orang tua murid dan masyarakat pada umumnya).  







 


Saturday, 1 May 2021

Perjalanan Awal Pendidikan dan Pelatihan CGP

 

JURNAL MINGGUAN BULAN APRIL

Perjalanan awal mengikuti pendidikan calan guru penggerak (CPG).

MINGGU KE-1

Kegiatan pendidikan calon guru penggerak (CGP) ini akan berlangsung selama 9 bulan yang dimulai bulan April-Desember 2021. Kegiatan ini diawali dengan Lokakarya 0 yaitu lokakarya perdana sebelum seluruh rangkaian pendidikan dan pelatihan kepemimpinan CGP.

Sabtu 10 April 2021

Lokakarya 0 Calon Guru Penggerak (CGP) Surabaya ini diikuti oleh pengawas, kepala sekolah, dan calon guru penggerak. Ada 17 Pengajar Praktik (PP) dan 100 CGP terlibat di acara yang diselenggarakan di dua tempat terpisah yaitu  Hotel Sahid Surabaya dan Hotel Bidakara.  Acara tersebut dibuka oleh DR. Subandi, M.M., Kepala PPPPK PKn-IPS  Jawa Timur. Sebelum pembukaan tersebut acara diisi oleh Bu Mamik Suparmi, Kepala Bidang Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Dispendik Surabaya dengan presentasinya yang memberikan motivasi dan arahan kepada CGP apa yang seharusnya dilakukan oleh CGP sebagai motor pendidikan di daerahnya masing-masing.

Setelah serangkaian acara pembukaan para peserta lokakarya diarahkan masuk ke kelasnya masing-masing dan masing-masing kelas didampingi oleh 2 pengajar praktik (PP). Materi lokakarya meliputi perkenalan diri, kekhawatiran dan harapan CGP dan membangun komitmen antara CGP dan Kepala Sekolah.

Selasa, 13 April 2021

Acara selanjutnya yaitu pembukaan sekaligus peresmian CGP angkatan 2 yang dibuka oleh Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan, Nadin Makarin, secara daring dimulai pukul 11.00 WIB dan dilanjutkan paparan kebijakan Kemendikbud dan paparan kebijakan PPGP. Kegiatan pada hari itu diakhiri dengan pelaksanaan pretest paket modul 1 oleh CGP.

Rabu, 14 April 2021

Kegiatan selanjutnya yaitu pengerjaan modul 1.1 di Learning Manajemen Sistem (LMS). Topik pertama dalam mosul 1.1. ini adalah dimulai dari diri tentang pemikiran Ki Hadjar Dewantara (KHD) dimana CGP menanyakan pada dirinya sendiri hal-hal apa saja yang telah dilakukan selama menjadi pendidik dan kemudian merefleksikannya ke dalam tulisan terkait pemikiran-pemikiran KHD dengan menjawab 3 pertanyaan dan menuliskan harapan dan ekspektansi CGP sebagai pendidik dengan tulisan 300-500 kata kemudian mempostingnya ke dalam blog LMS.

Kamis, 15 April 2021

Kegiatan selanjutnya masih modul 1.1 tetapi dengan topik berbeda yaitu eksplorasi konsep (Mandiri). Dalam topik ini membahas beberapa sub topik tentang potret pendidikan Indonesia sejak zaman kolonial hingga sekarang dan tanggapan reflektif CGP, asas pendidikan KHD, dasar-dasar pendidikan, kodrat alam dan kodrat zaman, budi pekerti, metode Montesori, Frobel dan taman anak, kerangka pemikiran KHD dan tanggapan reflektif kritis CGP yang harus dituangkan dalam bentuk audio/video visual dan dikumpulkan melalui link google drive.

Jumat, 16 April 2021

Kegiatan minggu pertama CGP diakhiri dengan eksplorasi konsep pada forum diskusi. Fasilitator mengajak para peserta CGP dalam video conference dan kegiatan ini berlansung selama kurang lebih 2,5 jam. Fasilitator mempresentasikan materi Refleksi Filosofis Pendidikan Ki Hadjar Dewantara. Setelah presentasi para peserta ditugaskan menuliskan refleksinya di dalam padlet dan sekaligus peserta lain memberi tanggapan terhadap refleksi tersebut. pada bagian akhir peserta diberi kesempatan untuk bertanya dan peserta lain menanggapinya sehingga terjadilah forum diskusi terkait filosofi dan pemikiran-pemikiran KHD tentang pendidikan. Kegiatan vicon ini menutup serangkaian kegiatan CGP minggu pertama kegiatannya semoga kegiatan berikutnya menambah semangat dalam menjalani pelatihan ini.

 

MINGGU KE-2

Senin, 19 April 2021

Kegiatan minggu ke-2 adalah ruang kolaborasi daring melalui google meet dan berlangsung selama 4 jam yang dimulai pukul 10.00 dan selesai pukul 14.00 WIB. Topik kolaborasi adalah mendesain kerangka pembelajaran sesuai dengan pemikiran KHD. Kelas dibagi menjadi 2 kelompok. Masing-masing kelompok memilih 1 topik profil pelajar  Pancasila kemudian mendiskusikannya untuk mendesain kerangka pembelajaran ke dalam presentasi yang berupa ppt, poster, video dan sebagainya.

Kegiatan diawali dengan penjelasan fasilitator langkah-langkah yang harus dilakukan oleh peserta dan dilanjut dengan pertanyaan-pertanyaan peserta tuntuk mendapatkan penguatan apa yang telah dijelaskan oleh fasilitator. Kemudian fasilitator membagi peserta menjadi 2 kelompok dan masing-masing kelompok berdiskusi di masing-masing ruang daring. Setelah selesai berdiskusi peserta kembali ke ruang daring utama dan mempresentasikan hasil diskusinya. Fasilitator memberikan komentar dan masukan-masukan hasil diskusi sehingga hasil diskusi tersebut dapat disusun menjadi kerangka pembelajaran tentang profil pelajar Pancasila.

Selasa, 20 April 2021

Kegiatan hari ini adalah ruang kolaborasi melalui video conference yang berlangsung mulai pukul 13.30 dan berakhir pukul 16.30. Pada kegiatan ini masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusinya dengan media pilihannya dapat berupa power point, poster, video  dan sebagainya. Masing-masing kelompok membagi tugas anggotanya seperti sebagai presenter, moderator, penanya, penjawab dan notulen. Kegiatan diawali dengan presentasi kelompok 1 dan dilanjutkan dengan  sesi tanya jawab. Sesi diakhiri dengan umpan balik positif dari kelompok lain. Selanjutnya giliran kelompok 2 mempresentasikan hasil diskusinya dan dilakukan secara berurutan seperti kelompok 1. Dalam kegiatan ruang kolaborasi tersebut diskusi berlangsung sangat berbobot dan para peserta sangat antusias dalam mengelaborasi mendiskusikan desain kerangka pembelajaran sesuai dengan pemikiran KHD. Topik diskusi masing-masing kelompok memilih salah satu profil pelajar pancasila dan dielaborasi sangat mendalam bahkan dalam penerapan kontekstual dalam pembelajaran di sekolah masing-masing sebagai contoh elaborasinya. Pada akhir kegiatan setiap peserta menuliskan refleksi diri berkaitan dengan kegiatan yang telah dilakukan kedalam padlet.

Rabu, 21 April 2021

Hari ini peserta CGP melakukan refleksi terbimbing. Disini saya menjawab 4 pertanyaan terkait pemikiran KHD dan mengetahui sejauh mana pengetahuan dan pengalaman baru yan didapat dalam diskusi dengan peserta CGP lainnya. Selain itu merefleksikan perubahan apa yang akan dilakukan saya sebagai CGP selanjutnya danterakhir adalah perubahan konkret yang akan saya lakukan.

Kamis-Jumat, 22-23 April 2021

Dalam kesempatan ini saya membuat poster yang mendeskripsikan filosofi dan pemikiran KHD yang sudah dijadikan profil pelajar Pancasila dalam pendidikan Indonesia. Poster mendiskripsikan bahwa guru penggerak harus dapat mewujudkan profil pelajar Pancasila yang dilakukan melalui pendidikan dan pembelajaran. Pada halaman poster ke-2 saya mendiskripsikan kegiatan yang sudah dilaksanakan di sekolah saya yang sesuai dengan profil pelajar Pancasila.

Pada akhir kegiatan minggu ke-2 ini seperti sebelumnya saya menuliskan jurnal mingguan ini sehingga saya dapat lebih mendalami pin-poin apa saja yang sudah saya lakukan dan lalui semoga dengan kegiatan seminggu ini dapat menambah motivasi saya untuk belajar dan dapat menggerakkan pendidkan dengan melakukan apa yang dapat saya lakukan untuk kemajuan pendidikan.

Minggu ke-3

Perjalananku mengikuti pendidikan CGP di minggu ke-3 masih membahas modul 1. Hari ke-1 pada hari Senin, 26 april 2021 terjadwal webinar elaborasi pemahaman. Ada 2 sesi webinar yaitu webinar sesi 1 dihadiri CPG dari seluruh Indonesia semua jenjang yaitu TK, SD, SMP DAN SMA. Sedangkan sesi 2 webinar dikelompokkan menurut jenjang sekolah dan memasuki room webinar masing-masing jenjang, saya pun maemasuki ruang webinar jenjang SMA.

Sesi pertama berdurasi kurang lebih 60 menit diisi oleh Ki Prijo Dwiarsa seorang tokoh pendidikan perguruan Taman Siswa. Beliau memaparkan sangat detil perjalanan KHD dalam memperjuangkan pendidikan di Indonesia. Bagaimana dan latar belakang KHD concern terhadap pendidikan di Indonesia. Saya sangat terkesima dengan pengalaman KHD yang merupakan titik balik beliau concern tehadap pendidikan. Dikisahkan pada saat itu KHD di Den Haag sebagai jurnalis beliau sedang kejar tayang berita. Pada saat itu  KHD adalah pengantin baru dan telah memiliki putri yang masih balita. Pada suatu malam beliau sedang mengerjakan tugas yang kejar tayang dan dalam waktu bersamaan putri kecil beliau yang bernama Ni Asthi menangis dengan keras sehingga KHD merasa sangat terganggu dengan tangisan si kecil. Dengan segera KHD memindahkan si kecil Asthi ke ruangan lain dengan harapan tidak menggangu pekerjaannya. Sayangnya setelah KHD menyelesaikan pekerjaannya beliau tidak mendengar tangisan si Asthi. Setelah ditengok ternyata Asthi sudah dalam keadaan kebiru-biruan pucat pasi karena kedinginan. Pada saat itu cuaca di Den Haag sedang musim salju. Alhasil Asthi langsung dilarikan ke rumah sakit. Seiring dengan berjalannya waktu perkembangan si Asthi mengalami kendala sehingga menjadi anak berkebutuhan khusus (ABK) yang sepanjang hidupnya tergantung dengan orang lain. Sejak itu pula KHD merasa sangat bersalah kepada anaknya sehingga  KHD berjanji untuk memuliakan Ni Asthi. Berangkat dari kejadian tersebut beliau memberikan pemikiran-pemikirannya tentang pendidikan yang salah satunya adalah seorang pendidik haruslah menghamba pada anak untuk mencapai kebahagiaan dan keselamatan anak. Hal ini tentunya menjadi pembelajaran yang sangat berharga bagi semua orang tua atau guru sebagai pendidik. Orang tua dalam mendidik dan mengasuh anaknya harus selalu berhati-hati, tidak ceroboh dan memperhatikan kebutuhan dan kondisi anak. Sedangkan guru sebagai pendidik haruslah mendidik anak yang berpusat pada anak.

Webinar sesi ke-2 diisi oleh narasumber praktik baik oleh Suhendiana Noor dari SMAN 1 Lembang Bandung untuk jenjang SMA. Beliau memaparkan kegiatan-kegiatan unggulan yang sudah diterapkan di sekolahnya. Sebenarnya sebagian besar paparan kegiatan yang disampaikan juga sudah dilakukan di sekolah saya tetapi ada satu atau dua kegiatan yang sangat menarik perhatian saya yang saya rasa sangat berbeda yaitu pembelajaran yang dilaksanakan di bawah pohon atau beliau menyingkat DPR (di bawah pohon rindang). Pembalajaran semacam ini menurut saya sangat langka apalagi apabila dilaksanakan di kota besar. Saya rasa pembelajaran semacam ini sangat menyatu dengan alam karena hal seperti ini tentulah sulit bagi sekolah yang ada di perkotaan seperti sekolah saya di Surabaya. Tetapi saya sangat memimpikan pengalaman kegiatan belajar mengajar semacam ini. Kegiatan ke-2 yang mencuri perhatian saya yaitu ketika beliau memaparkan kegiatan Pondok Khusus. Kegiatan ini membimbing siswa dengan perlakuan khusus karena mereka memerlukan perhatian lebih. Menariknya mereka berangkat dan pulang sekolah wajib diantar dan dijemput orang tua bahkan pada saat makan siang menurut beliau orang tua harus menyuapi anaknya di sekolah. Menurut saya kegiatan itu sangat bagus untuk siswa yang memang membutuhkan perhatian khusus dari sekolah dan tidak mudah. Pada prinsipnya apabila sekolah mengaplikasikan sekolah berbasis layanan haruslah dapat mengakomodir kebutuhan siswa secara keseluruhan tidak hanya mengakomodir siswa yang cepat belajar atau berprestasi saja tetapi di sisi lain juga memberikan pelayanan yang lebih juga kepada siswa yang memang benar-benar membutuhkan perhatian khusus.

Pada minggu ke-3 ini calon guru penggerak diminta membuat kesimpulan dan refleksi yang dapat dituangkan ke berbagai media misalnya video, infografis dan artikel di blog. Saya memilih menulis artikel di blog saya yang sudah beberapa lama saya vakum mengisi blog personal saya. Kesimpulan dan refleksi saya dapat diakses di laman https://bupraptibahasainggris.blogspot.com/search/label/Teacher%20Corner.

Demikian jurnal mingguan saya di minggu ke-3 ini yang juga sekaligus kegiatan secara keseluruhan di bulan April 2021 yang diakhiri dengan penulisan jurnal kegiatan mingguan ini, terimakasih.

 

Wednesday, 28 April 2021

Kesimpulan dan Refleksi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara

Menjadi Pendidik atau Pengajar?

Menurut Ki Hadjar Dewantara (KHD) pengajaran (onderwijs) adalah  proses pendidikan dalam memberi ilmu yang berfaedah untuk kecakapan hidup anak secara lahir dan batin. Menurut definisi tersebut pastilah seorang guru telah melakukannya sebagian besar tugas tersebut dalam kegiatan belajar-mengajar di kelasnya bahkan hampir setiap hari dalam melakukan tugasnya seorang guru menyajikan materi ilmu pengetahuan yang sesuai dengan mata pelajaran yang diampunya.

Tetapi apakah guru tersebut  sudah melakukan tugasnya sebagai pendidik? Inilah yang kadang terlupakan oleh seorang guru dalam menjalankan tugas yang sesungguhnya. Seorang guru jangan sampai terlena dengan memberikan materi-materi pelajaran yang disampaikannya bahkan dengan memberi tugas-tugas  para siswanya yang kadang melebihi alokasi waktu yang seharusnya diterapkan yang pada akhirnya akan berdampak kepada  para siswa sehingga mereka merasa sangat terbebani. Mengapa seorang guru sampai melakukan hal teraebut? Apabila guru tersebut telah memahami benar kurikulum secara mendasar dia tidak akan melakukan hal tersebut. Apabila seorang guru memahami benar pemikiran-pemikiran dan filosofi KHD hal itu tidak akan terjadi.

Apabila kita sebagai guru telah memahami filosofi dan pemikiran-pemikiran KHD kita akan menyadari sepenuhnya bahawa seorang guru tidak hanya sebagai pengajar saja tetapi tugas sesungguhnya adalah sebagai pendidik. Menurut KHD pendidikan (opvoeding) adalah memberi tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar ia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai seorang manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Disinilah sebenarnya tugas berat yang  harus dilakukan oleh seorang guru sebagai pendidik.

Menurut KHD Seorang bayi yang baru lahir bukanlah seperti selembar kertas yang seperti teori tabula rasa sebutkan. Menurut KHD bayi yang baru lahir adalah anak yang memiliki segala kemampuan dan potensi yang ada dalam dirinya dimana orang tua dan lingkunygan yang akan memberi warna atau tuntunan dan bimbingan untuk masa depannya. Dalam proses pendidikan tersebut orang tua dan guru atau pendidik hanya menuntun dan membimbing perkembangan anak tersebut sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zamannya untuk mencapai kebahagiaan dan keselamatan secara lahir dan batin dalam hidupnya di masyarakat.  Jadi orang tua ataupun seorang guru atau pendidik tidak berhak memaksakan atau membentuk anak tersebut sesuai dengan keinginannya. Anak berhak mendapat kemerdekaannya dalam menentukan masa depannya untuk menjadi manusia seutuhnya.

Seperti yang diibaratkan oleh KHD bahwa orang tua atau pendidik diibaratkan seorang tukang kebun atau petani.  Kebun atau sawah diibaratkan sebagai pendidikan atau sekolah dan benih-benih jagung atau padi itu diibaratkan anak-anak. Apabila benih jagung atau padi tersebut disemai di tempat yang baik, mendapat pupuk yang baik, pengairan yang baik dan mendapat sinar matahari yang baik serta mendapat perawatan yang baik maka akan menghasilkan hasil panen yang berkualitas. Apabila benih-benih jagung atau padi tersebut kurang baik, diharapkan petani atau tukang kebun tersebut dapat merawatnya dengan baik bukan mustahil akan menuai hasil panen yang baik pula. Sebaliknya walaupun beni-benih jagung atau padi tersebut adalah benih yang baik, tetapi disemai di lahan yang kurang bagus dan dalam perawatannya kurang baik benih tersebut akan tumbuh tidak optimal bahkan tidak mustahil akan mati.

Begitu pula dengan pendidikan anak-anak. Apabila anak-anak kita mendapatkan tempat pendidikan yang baik dan benar, para pendidik paham dan sadar akan makna pendidikan tidak mustahil akan dapat mengantarkan anak-anak atau para siswanya menjadi siswa yang berbudi dan berakhlak luhur.

Kembali kepada tugas seorang guru di sekolah. Setelah memahami pemikiran-pemikiran KHD penulis menyadari bahwa tugas yang paling mendasar sebagai seorang guru tidak hanya sebagai pengajar tetapi juga sebagai pendidik. Guru tidak hanya mengejar target dan tuntasnya materi pelajaran tetapi guru harus menuntun dan membimbing siswa untuk mencapai kebahagiaan dan keselamatannya sesuai kodrat alam dan  kodrat zaman. Guru dapat mengadakan perubahan pada diri anak dan mendidik sesuai zaman dimana anak itu berada. Guru harus dapat menggali dan mengembangkan potensi kecakapan hidup yang ada pada anak. Guru dapat memahami karakter siswa sebagai individu yang unik. Sebaliknya guru hendaknya juga dapat menuntun siswa apabila mengalami kendala dan mendapatkan masalah dalam belajar dengan mengetahui  latar belakang yang dialami siswa sehingga mampu memecahkan dan menemukan solusi untuk kelanjutan perkembangannya. Setiap siswa memiliki masalah atau kendala belajar yang berbeda sesuai latar belakang yang dimilikinya tentunya. Disinilah tantangan seorang guru yang harus mampu selalu menuntun dan memberi solusi sehingga siswa tetap berbahagia dalam belajar dan mencapai kebahagiaan dan keselamatan dalam hidupnya.

Pemikiran selanjutnya menurut KHD adalah menanamkan dan mengembangkan budi pekerti. Budi pekerti adalah watak atau karakter merupakan perpaduan antara gerak pikiran, perasaan dan kehendak atau kemauan sehingga menimbulkan tenaga dengan kata lain pendidikan haruslah dapat mengembangkan dan menanamkan cipta (kognitif), karsa (afektif) dan karya (psikomotor) pada anak. Pendidikan budi pekerti yang paling menentukan perkembangan seorang anak adalah keluarga. Keluarga yang dapat membentuk karakter dan jati diri seorang anak. Maka orang tua adalah guru pertama bagi seorang anak yang dapat menjadi model dirinya. Untuk selanjutnya sekolah adalah memantapkan nilai-nilai baik yang sudah ditanamkan di dalam keluarga. Sekolah dapat menjadi tempat belajar anak  dalam bersosialisasi dan bermasyarakat. Sekolah adalah tempat anak mengembangkan potensi kognitif, afektif dan psikomotor di dalam bimbingan dan tuntunan seorang guru untuk mencapai pribadi yang lebih baik dalam kehidupan anak.

#gurupenggerak

#refleksidiri