Sunday, 19 September 2021

3.1.a.9. Koneksi Antarmateri - Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran


Pada tahapan belajar alur “Merdeka” pada koneksi antar materi modul 3.1 Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran calon guru penggerak (CGP) diminta untuk membuat kesimpulan (sintesis) dari keseluruhan materi yang sudah dipelajari melalui media baik berupa video maupun artikel dalam blog. Pada kesempatan ini penulis berupaya lagi membuat sintesis dengan menghubungkan materi-materi sebelumnya yaitu  modul 1 paradigma dan visi guru penggerak, modul 2 praktek pembelajaran yang berpihak pada murid dan modul 3 yaitu pemimpin pembelajaran dalam pengembangan sekolah.


Sebagaimana kita ketahui filosofi Pratap Triloka Bapak pendidikan Ki Hadjar Dewantara (KHD) memiliki pengaruh yang besar dalam pelaksanaan pendidikan di Indonesia. Seorang guru sebagai pemimpin pembelajaran di sekolah tidak terlepas dalam  sebuah pengambilan keputusan baik dalam proses pembelajaran maupun interaksi sosial dengan rekan sejawatnya.


Pratap Triloka KHD yang meliputi “Ing Ngarso Sung tulodo, Ing Madyo Mangun Karso dan Tut Wuri” ini merupakan jiwa dari pendidikan nasional. Menjadi seorang guru bukanlah hal yang mudah,  butuh proses berpikir membuat konsep dan mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari dalam pendidikan di sekolah. Lalu bagaimana filosofi patrap triloka  Ki Hadjar Dewantara  terhadap pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran? 


“Ing Ngarso Sung Tulodo” mengandung makna bahwa seorang guru di depan mampu memberi teladan dimana seorang pendidik sebagai pemimpin pembelajaran sebaiknya penuh dengan analisis dan berbagai pertimbangan karena keputusan yang diambil akan dijadikan contoh bagi murid-muridnya baik dalam pembelajaran di kelas maupun di sekolah.


“Ing Madyo Mangun Karso” di tengah mampu membangun karsa atau kemauan/semangat dimana keputusan yang diambil seorang pendidik sebagai pemimpin pembelajaran hendaknya bisa mempertimbangkan kemauan dan memberi semangat bagi murid-muridnya.


“Tut Wuri Handayani” di belakang mampu memberi dorongan dimana keputusan yang diambil dapat mendukung secara fisik dan moral bagi murid-murid yang ada di sekolah sehingga tantangan guru terkini adalah mampu menyesuaikan dengan kodrat alam dan kodrat zaman murid pada masanya. Guru mampu menjadi teladan bagi murid serta teman sejawat secara adaptif terhadap perkembangan zaman sebagai pemimpin pembelajaran,  mendorong kolaborasi yang juga menjadi agen transformasi sesuai tuntutan zamannya.


Nilai-nilai yang tertanam dalam diri seorang calon guru penggerak yaitu mempertahankan dan mengembangkan nilai dari guru penggerak,  mandiri, kolaboratif, reflektif, inovatif dan berpihak pada murid yang kemudian dapat menggerakkan komunitas praktisi menjadi teladan bagi murid dan teman sejawat menjadi pemimpin pembelajaran dan mewujudkan kepemimpinan murid dengan berpegang teguh kepada prinsip, nilai dan filosofi pendidikan KHD yang pada akhirnya seorang guru penggerak dapat mengambil keputusan yang bersifat etis dan manusiawi.


Kegiatan Coaching pada Pengujian Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran

Pada kegiatan belajar alur refleksi terbimbing  modul 2 guru melakukan praktek coaching model Tirta yang berperan sebagai coachee sehingga dapat mengembangkan potensi dirinya serta berperan sebagai coach untuk melatih keterampilan berkomunikasi yang memberdayakan sehingga kegiatan coaching sangat membantu guru dalam pengambilan keputusan untuk memecahkan masalah. Sebelum mengenal panduan pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran pengambilan keputusan lebih kepada lingkungan terhadap apa yang diharapkan orang lain akan dilakukan kepada diri kita dan juga berdasarkan intuisi dari diri seorang pendidik. 


Ternyata tidak semua keputusan sulit merupakan dilema etika ada kalanya berupa bujukan moral. Ada 2 jenis dilema dalam pengambilan keputusan yaitu dilema etika (benar versus benar) dan bujukan moral (benar versus salah). Dilema etika adalah situasi yang terjadi ketika seseorang harus memilih antara 2 pilihan dimana kedua pilihan secara moral benar tetapi bertentangan. Sedangkan bujukan moral adalah situasi yang terjadi ketika seseorang harus membuat keputusan benar atau salah.


Keputusan yang Tepat Berdampak pada Lingkungan

Sebagai pemimpin pembelajaran harus memastikan bahwa keputusan yang diambil adalah keputusan yang tepat sehingga keputusan yang diambil akan berdampak positif bagi murid untuk menciptakan lingkungan belajar yang positif, kondusif, aman, nyaman dalam pembelajaran yang berpihak pada murid guna mewujudkan merdeka belajar


Pengambilan Keputusan

Adapun dalam mengambil keputusan seorang pemimpin pembelajaran memiliki 9 langkah pengambilan keputusan yaitu:

  1. Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan,  

  2. Menentukan siapa yang terlibat, 

  3. Mengumpulkan fakta-fakta yang relevan,  

  4. Pengujian benar atau salah baik secara legal, regulasi,  intuisi,  publikasi, panutan atau idola.

  5. Pengujian paradigma benar lawan benar


Dalam pengujian paradigma benar lawan benar kita dihadapkan dengan 4 paradigma yaitu dilema etika antara :

  1. individu lawan masyarakat (individual versus Community),  

  2. rasa keadilan lawan rasa kasihan (Justice versus mercy),  

  3. kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty),  

  4. jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term).


  1. Melakukan prinsip resolusi yaitu 

  1. berpikir berbasis hasil akhir (end-based  thinking),  

  2. berpikir berbasis peraturan ( rule - based thinking),  

  3. dan berpikir berbasis rasa peduli (care-based thinking)

 

7. Investigasi opsi trilemma 

8. Membuat keputusan

 9. Tinjau ulang keputusan lalu refleksikan


Sementara kesulitan-kesulitan apa yang dialami dalam menjalankan pengambilan terhadap kasus-kasus dilema etika? Beberapa hal yang saya alami yaitu nilai dan budaya masyarakat, kemudian paradigma berpikir dimana kurang dinamis dalam menerima sesuatu hal yang baru, kemudian informasi yang diperoleh tidak akurat sehingga kesulitan dalam mengidentifikasi masalah. Kesulitan-kesulitan ini akan kembali pada masalah perubahan paradigma di lingkungan sekolah.


Pengambilan keputusan yang diambil dengan pengajaran yang memerdekakan murid akan berpengaruh pada masa depan murid di mana arus perubahan menuntut siswa menguasai berbagai kecakapan hidup yang esensial untuk menghadapi berbagai tantangan abad 21. Keputusan seorang pemimpin pembelajaran sangat mempengaruhi masa depan murid. Coba kita ambil kutipan di bawah ini:


Mengajarkan anak menghitung itu baik namun mengajarkan mereka apa yang berharga atau utama adalah yang terbaik.” 

(Teaching kids to count is fine but teaching them what counts is best)

by Bob Talbert


Artinya  kita sebagai pendidik tidak hanya sekedar mentransfer ilmu pengetahuan saja namun perlu menyiapkan keterampilan kecakapan hidup mereka untuk diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat kelak sehingga dalam pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran sangat berpengaruh dalam menjadikan murid sebagai manusia merdeka dan berkarakter merdeka.


Kesimpulan akhir yang dapat ditarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya adalah pendidik sebagai pengambil keputusan mempunyai peran utama dalam pemimpin pembelajaran terutama dalam menuntut laku atau budi pekerti murid melalui budaya positif di sekolah.


Sebagai agen perubahan CGP mengusung visi pribadinya yang akan melakukan perubahan dengan manajemen perubahan teknik Bagja secara perlahan tapi pasti dan dengan kompetensi sosial emosional yang matang kemudian pembelajaran yang terintegrasi pada pembelajaran berdiferensiasi akan mengoptimalkan potensi murid melalui kegiatan coaching model Tirta yang tepat dan terarah untuk mewujudkan merdeka belajar.


Demikianlah kesimpulan dan juga keterkaitan antara materi pada Modul 1 paradigma dan visi guru penggerak, modul 2 praktik pembelajaran yang berpihak pada murid dan modul 3 pemimpin pembelajaran dalam pengembangan sekolah semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi bapak ibu guru hebat di seluruh Indonesia akhir kata kritik dan saran membangun atas tulisan ini sangat penulis apresiasi, salam dan bahagia.


Sunday, 12 September 2021

Refleksi pada Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran

 


“Education is the art of making man ethical.”

“Pendidikan adalah sebuah seni untuk membuat manusia menjadi berperilaku etis.”

~ Georg Wilhelm Friedrich Hegel ~


Kutipan diatas adalah relevan dengan judul topik penulis tentang Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran. Dalam dunia pendidikan seorang pemimpin haruslah mengambil sebuah keputusan yang benar-benar sudah dipertimbangkan dan keputusan itu akan berdampak pada semua aktifitas kehidupan pembelajaran yang menentukan perilaku dalam lingkungan pembelajaran yang menentukan baik/buruk, berhasil/tidak kelangsungan hidup itu sendiri.

Setelah mempelajari modul 3.1 dengan materi pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran dengan menjawab kuesioner dan memahami eksplorasi konsep baik secara mandiri maupun kolaborasi, saya dapat merefleksikan materi-materi dalam modul 3.1 tersebut sebagaimana dalam urian di bawah ini. 

Materi konsep-konsep pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam pembelajaran telah saya pahami dengan baik. Seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan agar keputusannya benar-benar dapat dipertanggungjawabkan melalui beberapa prinsip, konsep dan pengujian yaitu masalah tersebut antara dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. 

Dilema Etika adalah situasi ketika seseorang harus memilih antara 2 opsi dimana kedua-duanya secara moral benar, tetapi saling bertentangan dan di saat itu seseorang pemimpin harus membuat keputusan antara benar dan benar. Sedangkan bujukan moral adalah situasi ketika seseorang harus memilih dan membuat keputusan antara benar dan salah. 

Empat paradigma pengambilan keputusan adalah dilema etika yang terdiri dari Individu vs Masyarakat (individual vs community), Rasa keadilan vs Rasa Kasihan (justice vs mercy), Kebenaran vs Kesetiaan (truth vs loyalty),  dan Jangka Pendek vs Jangka Panjang (short term vs long term). Individu lawan masyarakat adalah pertentangan antara individu (kelompok kecil) yang berdiri sendiri melawan sebuah kelompok yang lebih besar di mana individu ini juga menjadi bagiannya. Bisa juga konflik antara kepentingan pribadi melawan kepentingan orang lain, atau kelompok kecil melawan kelompok besar. Rasa keadilan lawan rasa kasihan adalah pilihan antara mengikuti aturan tertulis atau tidak mengikuti aturan sepenuhnya. Pilihan yang ada adalah memilih antara keadilan dan perlakuan yang sama bagi semua orang di satu sisi, dan membuat pengecualian karena kemurahan hati dan kasih sayang, di sisi lain. Kebenaran vs kesetiaan adalah situasi dimana kejujuran dan kesetiaan seringkali menjadi nilai-nilai yang bertentangan dalam dilema etika. Kadang seseorang perlu untuk membuat pilihan antara berlaku jujur dan berlaku setia (atau bertanggung jawab) kepada orang lain. Apakah seorang pemimpin akan jujur menyampaikan informasi berdasarkan fakta atau dia menjunjung nilai kesetiaan pada profesi, kelompok tertentu, atau komitmen yang telah dibuat sebelumnya. Yang terakhir yaitu jangka pendek vs jangka panjang. Paradigma ini paling sering terjadi dan mudah diamati. Kadang perlu untuk memilih antara yang kelihatannya terbaik untuk saat ini dan yang terbaik untuk masa yang akan datang. Paradigma ini bisa terjadi di level personal dan permasalahan sehari-hari, atau pada level yang lebih luas, misalnya pada issue-issue dunia secara global, misalnya lingkungan hidup dll.

Selanjutnya yaitu 3 prinsip dalam pengambilan sebuah keputusan yaitu prinsip Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking), Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking) dan Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking). Prinsip berbasis hasil akhir adalah apabila seseorang berpikir: “Saya lakukan karena itu yang terbaik untuk kebanyakan orang.” Prinsip berbasis peraturan apabila seseorang berpikir: “Ikuti prinsip dan aturan-aturan yang telah ditetapkan.” dan yang ke-3 adalah prinsip berbasis rasa peduli apabila seseorang berpikir: “Memutuskan sesuatu dengan pemikiran apa yang anda harapkan orang lain lakukan terhadap anda.”

Yang terakhir yang harus dilakukan seorang pemimpin adalah menguji keputusannya itu dengan  9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Langkah-langkah tersebut adalah dengan beberapa pertanyaan.

  1. Apa nilai-nilai yang saling bertentangan dalam studi kasus tersebut?

  2. Siapa yang terlibat dalam situasi tersebut ?

  3. Apa fakta-fakta yang relevan dengan situasi tersebut ?

  4. Mari kita lakukan pengujian benar atau salah terhadap

        situasi tersebut.

  1. Uji legal- Apakah ada aspek pelanggaran hukum dalam situasi tersebut?

  2. Uji regulasi- Apakah ada pelanggaran peraturan/kode etik profesi dalam kasus tersebut?

  3. Uji intuisi- Berdasarkan perasaan dan intuisi Anda, apakah ada yang salah dalam situasi ini?

  4. Uji Halaman Depan Koran- Apa yang Anda rasakan bila keputusan Anda dipublikasikan di halaman depan koran? Apakah Anda merasa nyaman? Bila Anda tidak merasa nyaman, kemungkinan kasus tersebut bukan kasus dilema

     etika, namun bujukan moral.

  1. Uji Panutan/Idola- Kira-kira, apa keputusan yang akan diambil oleh panutan/idola Anda dalam situasi ini?

5. Jika situasi gagal melalui salah satu uji tersebut, maka tidak perlu melanjutkan pada langkah berikutnya, kemungkinan besar situasi tsb adalah bujukan moral, bukan dilema etika.

6. Jika situasinya adalah situasi dilema etika, paradigma mana yang terjadi?

7. Prinsip mana yang digunakan untuk menyelesaikan masalah ini? Adakah 

    penyelesaian yang kreatif dan tidak terpikir sebelumnya. (Investigasi Opsi 

    Trilemma)?

8. Apa keputusan yang Anda ambil?

9. Coba lihat lagi keputusan Anda dan refleksikan.


Menurut saya memahami konsep-konsep ini saja tidaklah cukup karena setiap kasus sangat beragam dan banyak faktor-faktor lain yang mempengaruhi antara lain pelaku yang terlibat, latar belakang masalah dan tingkat kompleksitas masalah tersebut mempengaruhi baik tidaknya hasil keputusan yang diambil. Penguasaan medan/lapangan dan pengalaman/fakta yang terjadi sesungguhnya dalam setiap permasalahan sehingga dalam pengambilan keputusan terhadap suatu kasus sangat mempengaruhi keberhasilan pengambilan keputusan bahkan kemungkinan ada yang diluar dugaan atau diluar prediksi pengambil keputusan.

Sebelum mempelajari modul ini tentunya saya  pernah menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran dalam situasi moral dilema. Pada saat itu mengambil keputusan berjalan secara alami menurut pertimbangan saya baik dengan mengutamakan prinsip untuk kebaikan orang banyak dan yang penting keputusan yang saya ambil jauh dari kepentingan pribadi. Sedangkan setelah mempelajari modul 3.1 ini saya lebih paham bagaimana langkah-langkah pengambilan keputusan secara tepat melalui beberapa tahapan dengan mempertimbangkan apakah masalah ini adalah dilemma etika atau lebih kepada bujukan moral, termasuk 4 paradigma pengambilan keputusan yang mana, 3 prinsip pengambilan keputusan yang mana masalah tersebut dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. 

Topik modul pembelajaran 3.1 ini sangatlah penting dikuasai seorang guru baik itu sebagai individu maupun sebagai seorang pendidik atau guru yang merupakan pemimpin pembelajaran. Sebagai seorang individu pastilah menghadapi masalah dalam kesehariannya sehingga dengan memahami konsep-konsep dan prinsip-prinsip pengambilan keputusan dalam modul ini sangat baik juga diterapkan karena seorang individu adalah pemimpin juga bagi dirinya sendiri. Bagaimana seorang individu dapat memimpin orang lain apabila dia sendiri tidak dapat memimpin dirinya sendiri? Guru sebagai pemimpin pembelajaran di kelas akan menghadapi sejumlah siswa yang memiliki berbagai karakter dan masalah tentunya memiliki problematika dalam pembelajaran dan didalamnya guru haruslah dapat mengambil keputusan yang baik untuk para siswanya yang sedang mengalami permasalahan. Belum lagi seorang guru juga selalu berinteraksi dengan rekan guru lainnya di dalam sebuah lembaga dan permasalahan pastinya akan muncul. Apabila setiap guru memiliki pengetahuan dan pemahaman materi ini tentunya akan menciptakan sebuah lingkungan pembelajaran yang nyaman dan kondusif karena setiap guru dapat melalui masalahnya dengan baik dengan keputusan yang telah dibuatnya.

Mengingat materi modul 3.1 ini sangatlah penting adalah hal yang patut untuk mengaplikasikan dalam menjalankan tugas saya sebagai guru, pemimpin pembelajaran di kelas saya. Langkah selanjutnya adalah saya ingin segera mendesiminasikan materi Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran ini. Tidak semua guru apalagi di lingkungan sekolah saya mendapatkan kesempatan untuk mempelajari materi seperti ini. Sebagai calon guru penggerak penulis ingin segera mendesiminasikan kepada rekan-rekan guru lainnya yang belum mendapatkan kesempatan belajar dengan materi yang sangat penting sebagai seorang guru masa kini. Apabila semua guru memahami dan dapat mengaplikasikannya mereka dapat menjalankan tugas dan kewajibannya dengan baik dengan demikian juga akan berdampak besar kepada para siswa dan lingkungan sekolah pada umumnya sehingga tujuan pembelajaran yang sebenarnya akan tercapai.


Tuesday, 17 August 2021

Apakah Budaya Positif Sekolah itu?

Budaya positif di sekolah adalah nilai-nilai, keyakinan dan kebiasaan di sekolah yang berpihak pada murid agar murid dapat berkembang menjadi pribadi yang kritis, hormat dan bertanggung jawab. Dalam mewujudkan budaya positif di sekolah guru memegang peranan penting dan memahami posisinya untuk mewujudkan budaya positif baik di kelas maupun di sekolah.

Refleksi tentang budaya positif di sekolah yang berpihak pada murid dan penerapan budaya positif di kelas adalah motivasi untuk melakukan perubahan positif di kelas maupun di sekolah. 

Dalam pembelajaran di kelas kesepakatan kelas diperoleh dengan menampung ide-ide siswa dan arahan guru.

Perubahan yang akan dilakukan:

  1. Kesepakatan kelas akan disusun dari ide-ide, harapan dari 2 arah yaitu guru dan siswa.

  2. Meningkatkan posisi kontrol sebagai guru manajer.

  3. Membuat kesepakatan kelas bersama siswa di awal tahun ajaran.

  4. Menerapkan disiplin positif di kelas yang berfokus pada perilaku positif siswa agar menjadi pribadi yang berbudi pekerti.

  5. Menetapkan kelas impian bagi siswa.

Langkah pertama yang dilakukan untuk menerapkan budaya positif di kelas:

  1. Menciptakan visi sekolah

  2. Menyusun dan membuat kesepakatan kelas.

  3. Membentuk lingkungan sekolah yang mendukung terciptanya budaya positif

Siapa sajakah yang dapat dilibatkan dalam perancangan dan pembentukan budaya positif di sekolah?

  • Komite sekolah

  • kepala sekolah

  • Guru

  • Siswa

  • orang tua siswa

  • karyawan sekolah

  • keluarga dan masyarakat.

Marilah kita tanamkan budaya positif sekolah sejak dini untuk mencapai profil pelajar Pancasila.

Video selengkapnya bisa diakses https://youtu.be/XLAZFJJ_xIM .


Contoh hasil kesepakatan kelas



Saturday, 14 August 2021

2.2.a.9. Koneksi Antar Materi - Pembelajaran Sosial dan Emosional

 Oleh: Prapti Wardani- CGP angkatan 2 Kota Surabaya



Pada fase akhir belajar calon guru penggerak (CGP) selalu ditugaskan menghubungkan materi modul dengan materi modul yang telah dipelajari sebelumnya. Begitu pula pada modul 2.2 ini tentang pembelajaran sosial dan emosional, CGP menghubungkan materi modul-modul yang telah diselesaikan sebelumnya yaitu modul 1.1, 1.2, 1.3, 1.4, dan 2.1. Modul 2.2 yang menjadi pusat pembahasan koneksi antar materi, penulis mencoba membuat bagan seperti gambar di atas dan meletakkan materi modul 2.2 pembelajaran sosial emosional di tengah bagan sebagai pusat koneksi materi yang dihubungkan.

Sebagaimana dicetuskan oleh Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara (KHD),  bahwa maksud pendidikan itu adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia, maupun anggota masyarakat. Pernyataan ini tertuang dalam modul 1.1 pembelajaran CGP refleksi filosofi pendidikan Indonesia yang memiliki kaitan erat dengan pembelajaran sosial emosional materi modul 2.2. Untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan anak didik tidaklah cukup dengan memberikan ilmu pengetahuan tinggi. Bagaimana anak didik memiliki kemampuan kognitif yang tinggi tetapi tidak memiliki kemampuan sosial emosional tentulah sulit dicapai untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan. Memiliki kecerdasan intelektual tidak cukup menjadikan seseorang akan menjadi sukses, karena disaat anak didik tidak memiliki sosial-emosional yang baik maka mereka tidak dapat melakukan interaksi yang baik pula dengan orang lain. Demikian sebaliknya disaat sosial emosional baik maka mereka akan dapat mengatur segala macam emosi (sedih, gembira, haru, tawa, simpati, empati) yang keluar di waktu yang tepat. Maka dengan demikian Kesuksesan tidak hanya didapatkan dari pendidikan yang tinggi atau kemampuan kognitif  yang tinggi saja tetapi diiringi dengan kemampuan sosial-emosional yang baik sehingga dengan demikian mereka akan bermanfaat bagi orang-orang yang ada disekitarnya.

Keterkaitan modul 1.2 nilai dan peran guru penggerak dengan pembelajaran sosial emosional materi modul 2.2 adalah bahwa guru penggerak yang mengemban tugas sebagai pemimpin pembelajaran harus juga menguasai kompetensi sosial emosional. Perannya yang sangat penting untuk menggerakkan perubahan pendidikan akan melibatkan berbagai stakeholder maupun peserta didik menuntut guru penggerak menguasai 5 kompetensi sosial emosional yang dapat dikembangkan yaitu: 1. Kesadaran diri; 2. Pengelolaan diri; 3. Kesadaran sosial (Empati); 4. Keterampilan sosial (Resiliensi) dan 5. Pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. 

Dampak dari keberhasilan dalam penerapan KSE (Kompetensi Sosial Emosional) bagi seorang guru penggerak tidak hanya pada kesuksesan diri sendiri namun juga memberikan pondasi yang kuat untuk berperan dalam pendidikan sekitarnya namun  dalam berbagai area kehidupan mereka di luar akademik (CASEL ORG). Dengan demikian  dapat disimpulkan bahwa pembelajaran sosial emosional dapat dilatih dan ditumbuhkembangkan di luar pembelajaran, terintegrasi dalam pembelajaran dan menjadi budaya atau aturan sekolah sehingga dapat menciptakan well-being dalam ekosistem pendidikan yang sejalan dengan filosofi Ki Hajar Dewantara. Melalui latihan kesadaran penuh secara konsisten dapat menumbuhkan kesadaran diri, penghargaan terhadap perbedaan dan empati, pemahaman diri dan orang lain, serta kemampuan dalam menghadapi berbagai tantangan dengan karakteristik yang berbeda-beda.

Keterkaitan antara materi pembelajaran sosial emosional berkaitan dengan modul 1 dan 2.1. Modul 2.2 pembelajaran sosial emosional berkaitan dengan modul-modul lain yang telah dipelajari sebelumnya bahwa dalam menjalankan nilai dan perannya sebagai guru penggerak, maka seorang guru penggerak haruslah memiliki kemandirian, reflektif, kolaboratif, inovatif  serta berpihak pada murid. Guru penggerak juga harus menggunakan segala kekuatan dan potensi yang ada untuk membangun budaya positif di sekolah. Budaya positif yang dikembangkan hendaknya dapat mendorong pemenuhan kebutuhan belajar siswa sesuai dengan kodrat yang dimilikinya. Hal ini senada dengan filosofi KHD yakni pendidikan itu harus berjalan sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman).

Jika pembelajaran sosial emosional dengan pendekatan berkesadaran penuh (mindfulness) menjadi budaya positif di sekolah maka pembelajaran berdiferensiasi akan lebih mudah diterapkan karena peserta didik dapat lebih fokus, semangat, bertanggung jawab terhadap tugas dan pekerjaannya. Hal ini tentunya akan membahagiakan mereka karena pembelajaran yang disajikan  sesuai dengan .kebutuhan belajar, minat dan profil mereka.

Melalui pembelajaran berdiferensiasi dan pembelajaran sosial emosional  juga diharapkan dapat mewujudkan profil pelajar pancasila. Maka dengan demikian terwujudlah insan-insan yang cerdas dan berkarakter yang pada akhirnya berujung dengan melahirkan berbagai kebijaksanaan

Tuesday, 20 July 2021

Pembelajaran Berdiferensiasi (Koneksi antar Materi)

 

Semua pengetahuan terhubung ke semua pengetahuan lainnya. Yang menyenangkan adalah membuat koneksinya.” 

(Arthur Aufderheide)

2.1.a.9. Koneksi Antar Materi - Modul 2.1

oleh Prapti Wardani-CGP ANGKATAN 2-KOTA SURABAYA


Pada kesempatan koneksi antar materi ini calon guru penggerak (CGP) ditugaskan untuk membuat kesimpulan  dan mengaitkan materi modul 2.1 tentang pembelajaran berdiferensiasi dengan materi modul-modul yang telah dipelajari sebelumnya yaitu modul 1.1 tentang filosofi dan pemikiran Ki Hadjar Dewantara, modul 1.2 tentang visi dan peran guru penggerak, modul 1.3 tentang Inkuiri apresiatif dengan pendekatan BAGJA, dan modul 1,4 tentang budaya positif di sekolah. 


Kesimpulan yang akan penulis paparkan adalah apa yang dimaksud dengan pembelajaran berdiferensiasi, apa keuntungan menerapkan pembelajaran berdiferensiasi di kelas, bagaimana cara guru merancang pembelajaran berdiferensiasi dan apa saja keuntungan jika guru menerapkan pembelajaran berdiferensiasi di kelas, penulis berupaya memaparkan kesimpulannya sebagai berikut. 


Pembelajaran berdiferensiasi adalah usaha dalam proses pembelajaran dimana guru berusaha untuk mendesain pembelajaran yang menyesuaikan kepada kebutuhan belajar dari setiap individu/murid. 

Ada 5 aspek penting dalam pembelajaran berdiferensiasi yaitu 

  1. Lingkungan belajar yang “mengundang’ murid untuk belajar.  

  2. Tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas.

  3. Penilaian berkelanjutan/ongoing assessment.

  4. Merespon kebutuhan belajar murid.

  5. Manajemen kelas yang efektif.


Bagaimanakah cara guru untuk merancang pembelajaran berdiferensiasi? Untuk merancang pembelajaran berdiferensiasi yang pertama guru harus menetapkan tujuan pembelajaran atau kompetensi yang ingin dicapai dan memetakan  secara jelas agar arah pembelajaran dapat ditentukan secara pasti kebutuhan belajar setiap murid. Ada tiga hal yang dapat dilakukan seorang guru dalam memetakan pembelajaran berdiferensiasi yaitu

  1. Kesiapan belajar murid/readiness

  2. Minat belajar

  3. Profil murid 


Pemetaan berdasarkan ketiga aspek diatas sangat menentukan ketercapaian pembelajaran berdiferensiasi. Kesiapan belajar/readiness adalah kapan kesiapan belajar murid. Guru dapat menganalisis dengan menggunakan asesmen diagnostik kognitif dimana guru dapat memetakan sampai sejauh mana murid telah menguasai materi prasyarat dan siap untuk belajar materi baru yang akan dicapai oleh murid sesuai dengan kompetensi yang sudah dirumuskan. Pemetaan minat belajar murid dapat menjadi indikator penting dalam proses pembelajaran karena akan memunculkan motivasi atau dorongan bagi murid untuk mengikuti seluruh rangkaian pembelajaran misalnya murid  yang memiliki minat membaca, menulis, sains atau olah raga.  Yang ketiga profil murid. Profil murid dapat dianalisis berdasarkan tingkatannya misalnya kecerdasaan, budaya, sosial latar belakang yang paling sering kita jumpai adalah gaya belajar murid yaitu gaya belajar visual, auditori dan kinestetik. Pemetaan gaya belajar  akan memudahkan guru dalam menentukan jenis strategi yang dapat digunakan untuk mengakomodasi kebutuhan cara belajar murid yang berbeda-beda. 


Setelah melakukan pemetaan kebutuhan belajar setiap murid selanjutnya guru akan merancang strategi pembelajaran strategi diferensiasi. Ada 3 jenis strategi diferensiasi  yang digunakan yaitu proses, produk dan konten. Strategi diferensiasi proses menekankan pada bagaimana cara murid untuk mencapai tujuan pembelajaran, misalnya saja murid yang bergaya belajar auditori dapat diberikan rekaman tentang materi pembelajaran, murid dengan gaya belajar visual dapat menggali informasi melalui modul atau video pembelajaran yang penuh dengan visualisasi atau gambar atau murid dengan gaya belajar kinestetik dapat menggali informasi melalui aktivitas fisik atau gerakan seperti percobaan, simulasi atau bermain peran. Ketika murid sudah dipetakan berdasarkan strategi proses ini maka mereka akan belajar sesuai dengan gaya belajarnya masing-masing. Yang kedua adalah strategi konten. Pada strategi konten ini didasarkan pada kesiapan belajar murid di mana bahan ajar yang disediakan oleh guru sudut dipetakan mulai dari yang sederhana ke kompleks, konkrit ke abstrak, bahan ajar yang bersifat fundamental  atau mendasar ke bahan ajar yang bersifat transformatif. Hal ini tentu didukung oleh bantuan dari guru ataupun melalui scaffolding. Yang ketiga adalah strategi diferensiasi produk. Pada strategi produk guru dan murid akan merancang produk apa yang akan dibuat oleh murid untuk mendemonstrasikan capaian hasil belajarnya yang dimiliki murid misalnya murid yang memiliki gaya belajar visual akan membuat infografis, mind mapping atau sejenisnya yang berhubungan dengan visualisasi. Murid dengan gaya belajar auditori akan mempresentasikan hasil belajarnya melalui rekaman broadcast, lagu, puisi dan lainnya. Murid yang bergaya belajar kinestetik dapat melakukan hasil capaian belajarnya melalui performance pada materi tertentu. 


Apapun strategi pembelajaran atau strategi berdiferensiasi yang dipilih guru haruslah mampu mementingkan kompetensi atau tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada materi tersebut. Apapun yang guru pilih dalam strategi tersebut  guru sebaiknya bisa membuat yang namanya alat penilaian atau asesmen. Asesmen yang dilakukan adalah penilaian berkelanjutan atau on going assessment dengan arti penilaian yang dilakukan dilakukan tidak hanya dilakukan di akhir pencapaian kompetensi tetapi dilakukan secara berkala untuk memberikan umpan balik, untuk mendiagnosis permasalahan murid sehingga murid dapat belajar dan mengikuti ritme pembelajaran dengan baik. Ketika merancang penilaian pada pembelajaran berdiferensiasi  apapun demonstrasi murid, apapun pencapaian belajar murid melalui media apapun yang diukur haruslah sama yaitu kompetensi dan tujuan pembelajarannya. 


Langkah terakhir yang dapat dilakukan guru adalah guru dapat merancang kegiatan pembelajaran. Mengapa pembelajaran berdiferensiasi dapat memenuhi kebutuhan belajar setiap murid? Alasan yang pertama pembelajaran berdiferensiasi  bersifat proaktif yaitu melibatkan murid dalam berbagai proses pembelajaran,  yang kedua pembelajaran berdiferensiasi berakar pada tujuan pembelajaran dan kompetensi yang ingin dicapai dan berakar pada penilaian dan alasan terakhir adalah pembelajaran berdiferensiasi menggunakan pendekatan konstruktivistik dimana pembelajaran berpusat pada murid. Alasan  lainnya adalah pembelajaran berdiferensiasi menggunakan beragam pendekatan mulai dari konten, proses dan produk. Pembelajaran berdiferensiasi juga bukanlah pembelajaran yang bersifat klasikal semata tetapi menggabungkan atau perpaduan antara pembelajaran klasikal, kelompok-kelompok kecil bahkan pembelajaran Individual. Pembelajaran berdiferensiasi bersifat organis dan dinamis artinya pembelajaran ini  mampu mengajak guru dan murid untuk merespon setiap kebutuhan yang terjadi selama proses pembelajaran.


Apa koneksi antar materi pada modul 2.1 ini dengan modul-modul lain dalam pendidikan program guru penggerak? Pembelajaran berdiferensiasi menghadirkan pembelajaran yang beragam yang memaknai bahwa setiap murid adalah unik dan beragam dan ini sesuai dengan modul 1.1 yaitu pemikiran Ki Hajar Dewantara yang menyatakan bahwa anak tumbuh dan berkembang sesuai dengan kodrat zaman dan kodrat anak dan potensinya masing-masing, pendidik hanya merawat tumbuh kembangnya potensi itu agar menjadi bermanfaat dan bahagia serta sukses di masyarakat artinya pembelajaran berdiferensiasi mengakomodasi setiap potensi murid bakat, kodrat, minat baik kodrat alam maupun kodrat zaman murid. Dan apa kaitannya dengan modul 1.2 bahwa dengan menghadirkan pembelajaran berdiferensiasi yang melibatkan murid dalam setiap proses pembelajaran artinya guru telah mampu memaksimalkan nilai dan peran guru penggerak yaitu menciptakan budaya positif bagi murid dalam proses pembelajaran dalam upaya mewujudkan Profil Pelajar Pancasila. Apa kaitanya dengan modul 1.3 yaitu tentang pendekatan inkuiri apresiatif bahwa pembelajaran berdiferensiasi tidak bisa dilakukan oleh satu orang guru saja karena seorang guru bukanlah seorang superman atau super woman tetapi pembelajaran ini dapat mengkolaborasikan antara berbagai pemangku kepentingan untuk menghadirkan pembelajaran berdiferensiasi yang memenuhi setiap kebutuhan murid yang ada di ruang kelas di sekolah masing-masing. Oleh karena itu seorang guru hendaknya segera mengaplikasikan pembelajaran berdiferensiasi di kelasnya karena pembelajaran berdiferensiasi  bukannya satu metode untuk melayani satu anak atau memberikan 32 metode untuk melayani 32 anak atau pembelajaran yang semrawut  atau pembelajaran yang memerlukan perencanaan yang banyak tetapi pembelajaran berdiferensiasi adalah the way of thinking artinya cara berpikir guru dan murid dalam merespon setiap kebutuhan dari individu yang ada di kelas. Dengan pembelajaran berdiferensiasi maka setiap murid akan merasa dihargai. Mari bersama-sama merayakan setiap pertumbuhan yang dihadapi oleh murid di kelas karena kesuksesan pembelajaran adalah kesuksesan dan pertumbuhan bagi murid, guru dan semua orang setiap individu yang ada di kelas tersebut. Demikian kesimpulan yang dapat dipahami oleh penulis tentang pembelajaran berdiferensiasi.


Monday, 28 June 2021

Berbagi Aksi Nyata (PGP-Angk2-Kota Surabaya-Prapti Wardani-1.4-Aksi Nyata)

 

Budaya Positif Sekolah sebagai Pembentukan Karakter Siswa


“Adapun maksud pendidikan yaitu: menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya” 
(dikutip dari buku Ki Hajar Dewantara seri 1 pendidikan halaman 20)


Sekolah sebagai salah satu institusi pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam pembentukan karakter siswa. Maksud pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Apa yang dikatakan bapak pendidikan kita, Ki Hadjar Dewantara, seperti kutipan di atas  mengisyaratkan kita sebagai guru untuk membangun komunitas di sekolah untuk menyiapkan murid di masa depan agar menjadi manusia berdaya tidak hanya untuk pribadi tapi berdampak pada masyarakat.

Karakter seperti apakah yang bisa menyiapkan murid menjadi manusia dan anggota masyarakat untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan seperti tujuan pendidikan sendiri. Jika kita mengacu pada Profil Pelajar Pancasila, “Pelajar Indonesia merupakan pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai nilai-nilai Pancasila.” Pelajar yang memiliki profil yang demikian itu adalah pelajar yang terbangun utuh keenam dimensi pembentuknya, yaitu: 1) beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, 2) mandiri, 3) bergotong-royong, 4) berkebinekaan global, 5) bernalar kritis, dan 6) kreatif.

Sebagai institusi pendidikan tentunya sekolah telah menyiapkan semua tujuan tersebut baik sumber daya manusia (SDM) yaitu guru-guru yang berkompeten dan sistem atau aturan yang akan mencapai tujuan mulia tersebut. Adalah kewajiban dan hal yang urgent bagi sekolah sebagai institusi pendidikan untuk membentuk karakter siswa. Sekolah melanjutkan dan mengembangkan karakter siswa yang sudah terbentuk dari keluarga untuk meningkatkan dan menguatkan karakter yang sudah baik.


Dalam institusi sekolah apa yang dimaksud budaya positif adalah nilai-nilai dan keyakinan-keyakinan yang dibangun dalam jangka waktu lama yang tercermin pada sikap keseharian seluruh komponen sekolah. Dalam kebanyakan sekolah di Indonesia, contoh budaya sekolah yang sudah berjalan dengan baik adalah budaya senyum, salam, dan sapa. Tentunya, budaya sekolah tersebut masih perlu dilaksanakan mengingat perannya yang dapat membuat sekolah menjadi lingkungan yang nyaman. 

Budaya positif di sekolah ialah  nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, dan kebiasaan-kebiasaan di sekolah yang berpihak pada murid agar murid dapat berkembang menjadi pribadi yang kritis, penuh hormat dan bertanggung jawab. Dalam mewujudkan budaya positif ini, guru memegang peranan sentral. Guru perlu memahami posisi apa yang tepat untuk dapat mewujudkan budaya positif baik lingkup kelas maupun sekolah. Selain itu, pemahaman akan disiplin positif juga diperlukan karena sebagai pamong, guru diharapkan dapat menuntun murid untuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab.


Budaya positif salah satunya adalah yang ditumbuhkan dalam lingkungan terkecil yaitu kelas. misalnya kesepakatan kelas. Upaya dalam membangun budaya positif di sekolah yang berpihak pada murid diawali dengan membentuk lingkungan kelas yang mendukung terciptanya budaya positif, yaitu dengan menyusun kesepakatan kelas. Kesepakatan kelas yang efektif dapat membantu dalam pembentukan budaya disiplin positif  di kelas. Hal ini juga dapat membantu proses belajar mengajar yang lebih mudah dan tidak menekan. Seringkali permasalahan dengan murid berkaitan dengan komunikasi antara murid dengan guru, terutama ketika murid melanggar suatu aturan dengan alasan tidak mengetahui adanya aturan tersebut. Kurang adanya komunikasi ini menyebabkan relasi murid dan guru menjadi kurang baik.

Dalam penerapan aksi nyata penulis sebagai CGP telah mengaplikasikan salah satu budaya positif baik di sekolah maupun di kelas pembelajaran. Walaupun pembelajaran saat ini masih dalam pembelajaran jarak jauh (PJJ) budaya positif tersebut tetap berjalan misalnya budaya postif yang sudah tumbuh sejak dulu seperti sebelum siswa memulai pelajaran diperdengarkan lagu Indonesia Raya untuk tetap menanamkan rasa nasionalis siswa selalu muncul dalam sikap dan tindakan nyata. Setelah itu adalah literasi yang dibimbing oleh guru mata pelajaran yang mengajar pada jam pertama.

Pada awal tahun ajaran baru sebelum semuanya dimulai penulis sebagai CGP juga telah mengaplikasikan kesepakatan kelas dalam pembelajaran jarak jauh. Pada kesepakatan kelas tersebut disusun secara bersama-sama antara guru dan siswa dan mudah dipahami dan dapat langsung dilakukan. Oleh karena itu, dalam kesepakatan kelas selalumenggunakan kalimat positif seperti, “Saling menghormati” ,“Berjalan jika berada di lorong kelas”. Kalimat positif lebih mudah dipahami murid dibandingkan kalimat negatif yang mengandung kata seperti, “dilarang” atau “tidak”. Kesepakatan dapat diperbaiki dan dikembangkan secara berkala, seperti setiap awal semester. Tujuan kesepakatan kelas antara lain: Memandu dan mengarahkan siswa dalam proses PJJ, menumbuhkan kesadaran diri untuk tetap semangat belajar, membangun komitmen diri diawal pembelajaran, menciptakan suasana PJJ yang nyaman dan menyenangkan, mewujudkan kelas belajar impian.


Kesepakatan kelas ditulis dalam bentuk poster.


 Untuk mempermudah pemahaman siswa, kesepakatan ditulis misalnya dalam bentuk poster atau disusun sedemikian rupa sehingga dapat dipahami dan disadari oleh siswa. Pada masa PJJ seperti sekarang penulis telah merekam berupa video dan telah disimpan di kelas online jadi setiap siswa dapat menonton dan guru dapat mengingatkan kembali kesepakatan kelas yang telah disepakati di video tersebut.


Budaya positif semasa PJJ dalam KBM membuat kesepakatan kelas.





Kesepakatan Kelas