Thursday, 1 September 2022

Thursday, 21 July 2022

Rutinitas Awal Tahun Ajaran Baru Seorang Guru

Bulan Juli ini adalah awal tahun ajaran baru. Bagi seorang guru pasti sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk persiapan mengajar diantaranya adalah seperangkat pengajaran seperti silabus, rincian pekan efektif (RPE), program tahunan, progam semester yang dapat dibuat berdasarkan kalender akademik yang telah di'share' oleh waka kurikulum sekolah. 

Tetapi ada yang berbeda untuk tahun ini terutama untuk mempersiapkan perangkat kegiatan belajar mengajar (KBM) untuk kelas X. Sebagaimana kita ketahui tahun ini untuk kelas X sekolah mulai mengimplementasikan kurikulum merdeka, kurikulum yang dicanangkan Mas Mentri pada Februari 2022 beberapa waktu lalu dan ini berimbas pula pada tugas guru yang satu ini. Konon dengan kurikulum merdeka ini guru tidak terlalu dibebankan pada kegiatan administrasi yang biasanya ribet dan bertele-tele yang terakhir kali kurikulum 2013 seorang guru diberi kefleksibelan dengan membuat RPP satu halaman saja tetapi apakah benar dengan kurikulum merdeka ini kegiatan persiapan administrasi guru ini akan lebih memperingan tugas guru?

Beberapa waktu lalu sebelum bulan Juli, bulan dimulainya tahun ajaran baru, sekolah sibuk mempersiapkan bekal para guru dengan mengadakan workshop-workshop IKM atau workshop Implementasi Kurikulum Merdeka. Setelah mengikuti workshop-workshop tersebut penulis dapat sedikit memahami persiapan-persiapan perangkat pembelajaran apa saja yang perlu dikerjakan dan perangkat administrasi guru tersebut masih saja berseri hanya istilah-istilah perangkat KBM yang penulis sebutkan tadi sudah berubah nama. Bahkan yang dulu namanya RPP sekarang menjadi modul ajar ada format yang diberikan lebih rumit dan panjang sekali bagian-bagian yang harus ditampilkan tetapi untunglah format modul ajar yang diberikan sekolah penulis lebih disederhanakan. Nanti penulis akan memberikan contohnya modul ajar yang sudah penulis coba susun menurut format versi sekolah penulis dan semua contoh perangkat KBM dengan kurikulum merdeka ini dapat pembaca akses disini. Format modul ajar ini sesuai petunjuk dari pengawas sekolah penulis pada saat workshop IKM.

Istilah-istilah perangkat IKM seperti yang digambarkan dalam ilustrasi dibawah ini:


Ilustrasi inipun penulis peroleh di salah satu grup WA komunitas. Jadi dari segi administrasi guru apakah IKM dapat memperingan beban guru ataukah sebaliknya? Penulis kembalikan kepada para pembaca budiman dan tentu saja bagaimana seorang guru menyikapi hal-hal baru dalam tugasnya.

Tuesday, 19 October 2021

PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK PADA MURID

 AKSI NYATA (sebuah artikel refleksi)

GERAKAN LITERASI SEKOLAH

Kelas Menulis


“Lakukan yang terbaik di semua kesempatan yang kamu miliki.”

Latar Belakang

GLS kependekan dari Gerakan Literasi Sekolah adalah sebuah gerakan yang berupaya menumbuhkan budi pekerti siswa untuk mencapai pembelajaran sepanjang hayat karena gerakan literasi di sekolah berupaya menumbuhkan kebiasaan membaca dan menulis siswa sehingga menjadi budaya positif di lingkungan sekolah. Di SMA Negeri 15 Surabaya budaya membaca sudah ditumbuhkan sudah beberapa tahun diantaranya dengan literasi  sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai pada jam ke-1 selama 15 menit, disediakannya majalah dinding di setiap kelas untuk memfasilitasi hasil karya tulis siswa untuk dipajang dan pojok literasi yaitu setiap sudut kelas dibuat rak buku bacaan yang diperoleh dari koleksi siswa sendiri sehingga mereka dapat saling bertukar buku untuk dibaca. Tentu saja sebagai sekolah yang selalu ingin meningkatkan kualitas literasi program sekolah SMA Negeri 15 Surabaya para guru terutama guru penggerak yaitu penulis sendiri dan berkolaborasi dengan calon kepala sekolah di sekolah kami mencanangkan program literasi sekolah selanjutnya yaitu Kelas Menulis. Apakah program Kelas Menulis tersebut? Penulis akan memaparkan lebih mendalam dalam tulisannya di bawah.

Mengapa Kelas Menulis?

Kelas Menulis adalah sebuah program sekolah yang berdampak pada murid melibatkan aset sekolah diantaranya Kepala Sekolah sebagai penanggung jawab program, murid dan guru khususnya guru bahasa yaitu guru mata pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Jerman dan Bahasa Jawa karena keempat mata pelajaran bahasa tersebut adalah mata pelajaran bahasa yang diajarkan di SMA Negeri 15 Surabaya. Tidak terlepas pula peran orang tua/walimurid sebagai pihak pengontrol tercapainya program sekolah yang berdampak pada murid. 

Sasaran program ini adalah semua siswa kelas X  dengan tujuan untuk menanamkan nilai-nilai literasi sejak dini di sekolah menengah atas. Dengan bimbingan guru bahasa siswa dapat menghasilkan sebuah karya tulis yang layak baca dan menarik sehingga dapat didokumentasikan di perpustakaan sekolah. Dengan karya tulis tersebut semua warga sekolah dapat membaca hasil karya tulis tersebut dan  diharapkan para siswa bangga dengan hasil karyanya sehingga memotivasi untuk gemar menulis dan dapat merangsang siswa untuk menulis lagi dan menghasilkan lebih banyak karya tulisan. Pada kegiatan pameran pendidikan yang biasanya terjadwal pada akhir semester dimana para orang tua datang ke sekolah untuk mengambil buku rapor buku-buku hasil karya siswa dipamerkan orang tua/wali murid dapat mengetahui dan membaca hasil karya tulis putra-putri mereka bahkan mereka membeli buku karya tulis tersebut.

Harapan lain dari program Kelas Menulis untuk kedepannya program ini dapat mewadahi dan mengakomodasi siswa yang gemar dan memiliki talenta atau potensi menulis untuk membentuk klub literasi sekolah yang dapat menggerakkan literasi sekolah secara keseluruhan. Klub ini diharapkan dapat memunculkan bibit -bibit penulis di masa yang akan datang sehingga siswa memiliki cita-cita menjadi penulis terkenal.

Siswa bangga karya tulis dapat dibaca oleh warga sekolah di perpustakaan sekolah.

Kegiatan Kelas Menulis

Program Kelas Menulis melibatkan semua guru mata pelajaran bahasa yang ada di SMA Negeri 15 yaitu guru mata pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Jerman dan Bahasa Jawa dan setiap guru menugaskan dan membimbing siswanya sehingga menghasilkan sebuah karya tulis melalui tahapan-tahapan dalam proses belajar mengajar di kelas mulai menyusun draf, menyusun karangan , editing, revisi dan pencetakan.

Rapat koordinasi tim dengan guru mata pelajaran bahasa.

Program Kelas Menulis diintegrasikan dalam kegiatan belajar mengajar di kelas dengan bimbingan guru mata pelajaran bahasa berlangsung selama 1 bulan. Setiap siswa menghasilkan 1 karya tulis dengan topik beragam yang dibimbing oleh guru mata pelajaran bahasa masing-masing disesuaikan dengan kompetensi dasar yang sedang diajarkan. 

Bimbingan karya tulis dalam proses belajar mengajar di kelas.

Dengan bimbingan masing-masing guru dan dikoordinasikan oleh pengurus kelas setiap kelas menghasilkan 1 buku yang berisi karya tulis tersebut yang sudah melalui proses editing dan revisi sehingga karya tulis tersebut dapat dicetak menjadi sebuah buku sebagai karya tulis yang layak dan menarik untuk dibaca untuk segera didokumentasikan di perpustakaan sekolah. 

Pada akhir semester buku-buku hasil karya siswa dipamerkan dalam pameran pendidikan yang diadakan di sekolah dimana para wali murid/orang tua datang ke sekolah untuk mengambil buku rapor sekaligus sehingga mereka mengetahui hasil karya putra-putrinya di sekolah.

My Feelings

Sejak awal program kami guru bahasa dan khususnya penulis sendiri merasa optimis dengan Kelas Menulis ini . Hal ini mengingat potensi siswa SMA Negeri 15 Surabaya memiliki potensi yang bagus karena sekolah kami merupakan salah satu  sekolah favorit sehingga input siswa sekolah kami tergolong bagus  sehingga para guru yakin akan keberhasilan Kelas Menulis ini. Sejak awal rapat koordinasi semua guru pun menyambut dengan antusias dan hal ini memberi semangat kepada tim untuk ketercapaian program ini.

Di kelas proses kegiatan bimbingan para siswa juga antusias mengerjakan karena mereka sudah termotivasi dan bimbingan masing-masing guru yang dengan sabar dan telaten mengarahkan para siswanya.

Akhirnya tim merasa lega dan bahagia  karena hasil karya tulis siswa telah dibukukan dan didokumentasikan di perpustakaan sekolah untuk kemudian pada saat akhir semester pada ‘event’ pameran pendidikan akan dipamerkan.

Apa yang dapat dipelajari?

“Ketika aku bermimpi sendiri, itu hanyalah sebuah mimpi. Ketika kita bermimpi bersama, itu adalah awal sebuah kenyataan. Ketika kita bekerja bersama, mengikuti mimpi kita, itu adalah penciptaan surga di dunia.”

Kutipan di atas adalah kutipan yang penulis temui di alur belajar Demonstrasi Kontekstual  pendidikan guru penggerak. Kutipan tersebut sangatlah tepat tertuang dalam alur belajar ini karena dalam alur belajar Demonstrasi kontekstual calon guru penggerak diharapkan mampu merancang dan menerapkan konsep-konsep dan tahapan-tahapan pengelolaan program yang berdampak pada murid dimana program yang dirancang untuk sesuatu tercapainya tujuan program dan dapat dikolaborasikan dengan rekan sejawat, komunitas maupun stakeholder yang terkait didalamnya secara bersama-sama. Itulah makna yang dalam dari kutipan tersebut.

Begitu pula dengan program yang sudah penulis rancang dan laksanakan, banyak sekali pelajaran yang dapat diambil pada saat merancang program, pelaksanaan dan setelah pelaksanaan kegiatan Kelas Menuli. Penulis dapat belajar bagaimana program akan terlaksana apabila ada respon dan aksi dari rekan sejawat yang dapat menerima dan ikut terlibat dalam aksi program tersebut. Terlebih lagi kepatuhan dan antusias peserta didik dalam menerima tugas yang diberikan guru untuk menuliskan sebuah karya tulis karena termotivasi oleh guru di awal pembelajaran yang telah memberikan energi positif kepada siswa untuk menuangkan ide-ide mereka dalam sebuah tulisan. Semua itu tanpa kolaborasi yang baik program mustahil akan berjalan karena program Kelas Menulis melibatkan komponen besar yang ada dalam sekolah kami.

Tentu suatu program dalam pelaksanaannya tidak terlepas dari kendala atau kesulitan tertentu. Begitu pula pada saat program Kelas Menulis berlangsung. Kendala yang muncul tetap ada tetapi tidak begitu berarti karena  kekompakan dan kolaborasi semua pihak program Kelas Menulis akhirnya dapat terlaksana dengan baik karena dukungan dan partisipasi semua pihak yang ada di sekolah maupun orang tua/wali murid.

Program Kelas Menulis adalah muara dari program gerakan literasi sekolah yang diharapakan akan mampu membentuk budaya literasi siswa dan ke depannya diharapkan akan terbentuknya klub literasi sekolah yang akan mewadahi para siswa akan kegemaran baik membaca dan menulis dalam suatu klub literasi sekolah yang dapat memunculkan bibit-bibit penulis dan menjadikan membaca dan menulis menjadi pembelajaran sepanjang hayat.



Sunday, 19 September 2021

3.1.a.9. Koneksi Antarmateri - Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran


Pada tahapan belajar alur “Merdeka” pada koneksi antar materi modul 3.1 Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran calon guru penggerak (CGP) diminta untuk membuat kesimpulan (sintesis) dari keseluruhan materi yang sudah dipelajari melalui media baik berupa video maupun artikel dalam blog. Pada kesempatan ini penulis berupaya lagi membuat sintesis dengan menghubungkan materi-materi sebelumnya yaitu  modul 1 paradigma dan visi guru penggerak, modul 2 praktek pembelajaran yang berpihak pada murid dan modul 3 yaitu pemimpin pembelajaran dalam pengembangan sekolah.


Sebagaimana kita ketahui filosofi Pratap Triloka Bapak pendidikan Ki Hadjar Dewantara (KHD) memiliki pengaruh yang besar dalam pelaksanaan pendidikan di Indonesia. Seorang guru sebagai pemimpin pembelajaran di sekolah tidak terlepas dalam  sebuah pengambilan keputusan baik dalam proses pembelajaran maupun interaksi sosial dengan rekan sejawatnya.


Pratap Triloka KHD yang meliputi “Ing Ngarso Sung tulodo, Ing Madyo Mangun Karso dan Tut Wuri” ini merupakan jiwa dari pendidikan nasional. Menjadi seorang guru bukanlah hal yang mudah,  butuh proses berpikir membuat konsep dan mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari dalam pendidikan di sekolah. Lalu bagaimana filosofi patrap triloka  Ki Hadjar Dewantara  terhadap pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran? 


“Ing Ngarso Sung Tulodo” mengandung makna bahwa seorang guru di depan mampu memberi teladan dimana seorang pendidik sebagai pemimpin pembelajaran sebaiknya penuh dengan analisis dan berbagai pertimbangan karena keputusan yang diambil akan dijadikan contoh bagi murid-muridnya baik dalam pembelajaran di kelas maupun di sekolah.


“Ing Madyo Mangun Karso” di tengah mampu membangun karsa atau kemauan/semangat dimana keputusan yang diambil seorang pendidik sebagai pemimpin pembelajaran hendaknya bisa mempertimbangkan kemauan dan memberi semangat bagi murid-muridnya.


“Tut Wuri Handayani” di belakang mampu memberi dorongan dimana keputusan yang diambil dapat mendukung secara fisik dan moral bagi murid-murid yang ada di sekolah sehingga tantangan guru terkini adalah mampu menyesuaikan dengan kodrat alam dan kodrat zaman murid pada masanya. Guru mampu menjadi teladan bagi murid serta teman sejawat secara adaptif terhadap perkembangan zaman sebagai pemimpin pembelajaran,  mendorong kolaborasi yang juga menjadi agen transformasi sesuai tuntutan zamannya.


Nilai-nilai yang tertanam dalam diri seorang calon guru penggerak yaitu mempertahankan dan mengembangkan nilai dari guru penggerak,  mandiri, kolaboratif, reflektif, inovatif dan berpihak pada murid yang kemudian dapat menggerakkan komunitas praktisi menjadi teladan bagi murid dan teman sejawat menjadi pemimpin pembelajaran dan mewujudkan kepemimpinan murid dengan berpegang teguh kepada prinsip, nilai dan filosofi pendidikan KHD yang pada akhirnya seorang guru penggerak dapat mengambil keputusan yang bersifat etis dan manusiawi.


Kegiatan Coaching pada Pengujian Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran

Pada kegiatan belajar alur refleksi terbimbing  modul 2 guru melakukan praktek coaching model Tirta yang berperan sebagai coachee sehingga dapat mengembangkan potensi dirinya serta berperan sebagai coach untuk melatih keterampilan berkomunikasi yang memberdayakan sehingga kegiatan coaching sangat membantu guru dalam pengambilan keputusan untuk memecahkan masalah. Sebelum mengenal panduan pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran pengambilan keputusan lebih kepada lingkungan terhadap apa yang diharapkan orang lain akan dilakukan kepada diri kita dan juga berdasarkan intuisi dari diri seorang pendidik. 


Ternyata tidak semua keputusan sulit merupakan dilema etika ada kalanya berupa bujukan moral. Ada 2 jenis dilema dalam pengambilan keputusan yaitu dilema etika (benar versus benar) dan bujukan moral (benar versus salah). Dilema etika adalah situasi yang terjadi ketika seseorang harus memilih antara 2 pilihan dimana kedua pilihan secara moral benar tetapi bertentangan. Sedangkan bujukan moral adalah situasi yang terjadi ketika seseorang harus membuat keputusan benar atau salah.


Keputusan yang Tepat Berdampak pada Lingkungan

Sebagai pemimpin pembelajaran harus memastikan bahwa keputusan yang diambil adalah keputusan yang tepat sehingga keputusan yang diambil akan berdampak positif bagi murid untuk menciptakan lingkungan belajar yang positif, kondusif, aman, nyaman dalam pembelajaran yang berpihak pada murid guna mewujudkan merdeka belajar


Pengambilan Keputusan

Adapun dalam mengambil keputusan seorang pemimpin pembelajaran memiliki 9 langkah pengambilan keputusan yaitu:

  1. Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan,  

  2. Menentukan siapa yang terlibat, 

  3. Mengumpulkan fakta-fakta yang relevan,  

  4. Pengujian benar atau salah baik secara legal, regulasi,  intuisi,  publikasi, panutan atau idola.

  5. Pengujian paradigma benar lawan benar


Dalam pengujian paradigma benar lawan benar kita dihadapkan dengan 4 paradigma yaitu dilema etika antara :

  1. individu lawan masyarakat (individual versus Community),  

  2. rasa keadilan lawan rasa kasihan (Justice versus mercy),  

  3. kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty),  

  4. jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term).


  1. Melakukan prinsip resolusi yaitu 

  1. berpikir berbasis hasil akhir (end-based  thinking),  

  2. berpikir berbasis peraturan ( rule - based thinking),  

  3. dan berpikir berbasis rasa peduli (care-based thinking)

 

7. Investigasi opsi trilemma 

8. Membuat keputusan

 9. Tinjau ulang keputusan lalu refleksikan


Sementara kesulitan-kesulitan apa yang dialami dalam menjalankan pengambilan terhadap kasus-kasus dilema etika? Beberapa hal yang saya alami yaitu nilai dan budaya masyarakat, kemudian paradigma berpikir dimana kurang dinamis dalam menerima sesuatu hal yang baru, kemudian informasi yang diperoleh tidak akurat sehingga kesulitan dalam mengidentifikasi masalah. Kesulitan-kesulitan ini akan kembali pada masalah perubahan paradigma di lingkungan sekolah.


Pengambilan keputusan yang diambil dengan pengajaran yang memerdekakan murid akan berpengaruh pada masa depan murid di mana arus perubahan menuntut siswa menguasai berbagai kecakapan hidup yang esensial untuk menghadapi berbagai tantangan abad 21. Keputusan seorang pemimpin pembelajaran sangat mempengaruhi masa depan murid. Coba kita ambil kutipan di bawah ini:


Mengajarkan anak menghitung itu baik namun mengajarkan mereka apa yang berharga atau utama adalah yang terbaik.” 

(Teaching kids to count is fine but teaching them what counts is best)

by Bob Talbert


Artinya  kita sebagai pendidik tidak hanya sekedar mentransfer ilmu pengetahuan saja namun perlu menyiapkan keterampilan kecakapan hidup mereka untuk diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat kelak sehingga dalam pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran sangat berpengaruh dalam menjadikan murid sebagai manusia merdeka dan berkarakter merdeka.


Kesimpulan akhir yang dapat ditarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya adalah pendidik sebagai pengambil keputusan mempunyai peran utama dalam pemimpin pembelajaran terutama dalam menuntut laku atau budi pekerti murid melalui budaya positif di sekolah.


Sebagai agen perubahan CGP mengusung visi pribadinya yang akan melakukan perubahan dengan manajemen perubahan teknik Bagja secara perlahan tapi pasti dan dengan kompetensi sosial emosional yang matang kemudian pembelajaran yang terintegrasi pada pembelajaran berdiferensiasi akan mengoptimalkan potensi murid melalui kegiatan coaching model Tirta yang tepat dan terarah untuk mewujudkan merdeka belajar.


Demikianlah kesimpulan dan juga keterkaitan antara materi pada Modul 1 paradigma dan visi guru penggerak, modul 2 praktik pembelajaran yang berpihak pada murid dan modul 3 pemimpin pembelajaran dalam pengembangan sekolah semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi bapak ibu guru hebat di seluruh Indonesia akhir kata kritik dan saran membangun atas tulisan ini sangat penulis apresiasi, salam dan bahagia.


Sunday, 12 September 2021

Refleksi pada Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran

 


“Education is the art of making man ethical.”

“Pendidikan adalah sebuah seni untuk membuat manusia menjadi berperilaku etis.”

~ Georg Wilhelm Friedrich Hegel ~


Kutipan diatas adalah relevan dengan judul topik penulis tentang Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran. Dalam dunia pendidikan seorang pemimpin haruslah mengambil sebuah keputusan yang benar-benar sudah dipertimbangkan dan keputusan itu akan berdampak pada semua aktifitas kehidupan pembelajaran yang menentukan perilaku dalam lingkungan pembelajaran yang menentukan baik/buruk, berhasil/tidak kelangsungan hidup itu sendiri.

Setelah mempelajari modul 3.1 dengan materi pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran dengan menjawab kuesioner dan memahami eksplorasi konsep baik secara mandiri maupun kolaborasi, saya dapat merefleksikan materi-materi dalam modul 3.1 tersebut sebagaimana dalam urian di bawah ini. 

Materi konsep-konsep pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam pembelajaran telah saya pahami dengan baik. Seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan agar keputusannya benar-benar dapat dipertanggungjawabkan melalui beberapa prinsip, konsep dan pengujian yaitu masalah tersebut antara dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. 

Dilema Etika adalah situasi ketika seseorang harus memilih antara 2 opsi dimana kedua-duanya secara moral benar, tetapi saling bertentangan dan di saat itu seseorang pemimpin harus membuat keputusan antara benar dan benar. Sedangkan bujukan moral adalah situasi ketika seseorang harus memilih dan membuat keputusan antara benar dan salah. 

Empat paradigma pengambilan keputusan adalah dilema etika yang terdiri dari Individu vs Masyarakat (individual vs community), Rasa keadilan vs Rasa Kasihan (justice vs mercy), Kebenaran vs Kesetiaan (truth vs loyalty),  dan Jangka Pendek vs Jangka Panjang (short term vs long term). Individu lawan masyarakat adalah pertentangan antara individu (kelompok kecil) yang berdiri sendiri melawan sebuah kelompok yang lebih besar di mana individu ini juga menjadi bagiannya. Bisa juga konflik antara kepentingan pribadi melawan kepentingan orang lain, atau kelompok kecil melawan kelompok besar. Rasa keadilan lawan rasa kasihan adalah pilihan antara mengikuti aturan tertulis atau tidak mengikuti aturan sepenuhnya. Pilihan yang ada adalah memilih antara keadilan dan perlakuan yang sama bagi semua orang di satu sisi, dan membuat pengecualian karena kemurahan hati dan kasih sayang, di sisi lain. Kebenaran vs kesetiaan adalah situasi dimana kejujuran dan kesetiaan seringkali menjadi nilai-nilai yang bertentangan dalam dilema etika. Kadang seseorang perlu untuk membuat pilihan antara berlaku jujur dan berlaku setia (atau bertanggung jawab) kepada orang lain. Apakah seorang pemimpin akan jujur menyampaikan informasi berdasarkan fakta atau dia menjunjung nilai kesetiaan pada profesi, kelompok tertentu, atau komitmen yang telah dibuat sebelumnya. Yang terakhir yaitu jangka pendek vs jangka panjang. Paradigma ini paling sering terjadi dan mudah diamati. Kadang perlu untuk memilih antara yang kelihatannya terbaik untuk saat ini dan yang terbaik untuk masa yang akan datang. Paradigma ini bisa terjadi di level personal dan permasalahan sehari-hari, atau pada level yang lebih luas, misalnya pada issue-issue dunia secara global, misalnya lingkungan hidup dll.

Selanjutnya yaitu 3 prinsip dalam pengambilan sebuah keputusan yaitu prinsip Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking), Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking) dan Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking). Prinsip berbasis hasil akhir adalah apabila seseorang berpikir: “Saya lakukan karena itu yang terbaik untuk kebanyakan orang.” Prinsip berbasis peraturan apabila seseorang berpikir: “Ikuti prinsip dan aturan-aturan yang telah ditetapkan.” dan yang ke-3 adalah prinsip berbasis rasa peduli apabila seseorang berpikir: “Memutuskan sesuatu dengan pemikiran apa yang anda harapkan orang lain lakukan terhadap anda.”

Yang terakhir yang harus dilakukan seorang pemimpin adalah menguji keputusannya itu dengan  9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Langkah-langkah tersebut adalah dengan beberapa pertanyaan.

  1. Apa nilai-nilai yang saling bertentangan dalam studi kasus tersebut?

  2. Siapa yang terlibat dalam situasi tersebut ?

  3. Apa fakta-fakta yang relevan dengan situasi tersebut ?

  4. Mari kita lakukan pengujian benar atau salah terhadap

        situasi tersebut.

  1. Uji legal- Apakah ada aspek pelanggaran hukum dalam situasi tersebut?

  2. Uji regulasi- Apakah ada pelanggaran peraturan/kode etik profesi dalam kasus tersebut?

  3. Uji intuisi- Berdasarkan perasaan dan intuisi Anda, apakah ada yang salah dalam situasi ini?

  4. Uji Halaman Depan Koran- Apa yang Anda rasakan bila keputusan Anda dipublikasikan di halaman depan koran? Apakah Anda merasa nyaman? Bila Anda tidak merasa nyaman, kemungkinan kasus tersebut bukan kasus dilema

     etika, namun bujukan moral.

  1. Uji Panutan/Idola- Kira-kira, apa keputusan yang akan diambil oleh panutan/idola Anda dalam situasi ini?

5. Jika situasi gagal melalui salah satu uji tersebut, maka tidak perlu melanjutkan pada langkah berikutnya, kemungkinan besar situasi tsb adalah bujukan moral, bukan dilema etika.

6. Jika situasinya adalah situasi dilema etika, paradigma mana yang terjadi?

7. Prinsip mana yang digunakan untuk menyelesaikan masalah ini? Adakah 

    penyelesaian yang kreatif dan tidak terpikir sebelumnya. (Investigasi Opsi 

    Trilemma)?

8. Apa keputusan yang Anda ambil?

9. Coba lihat lagi keputusan Anda dan refleksikan.


Menurut saya memahami konsep-konsep ini saja tidaklah cukup karena setiap kasus sangat beragam dan banyak faktor-faktor lain yang mempengaruhi antara lain pelaku yang terlibat, latar belakang masalah dan tingkat kompleksitas masalah tersebut mempengaruhi baik tidaknya hasil keputusan yang diambil. Penguasaan medan/lapangan dan pengalaman/fakta yang terjadi sesungguhnya dalam setiap permasalahan sehingga dalam pengambilan keputusan terhadap suatu kasus sangat mempengaruhi keberhasilan pengambilan keputusan bahkan kemungkinan ada yang diluar dugaan atau diluar prediksi pengambil keputusan.

Sebelum mempelajari modul ini tentunya saya  pernah menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran dalam situasi moral dilema. Pada saat itu mengambil keputusan berjalan secara alami menurut pertimbangan saya baik dengan mengutamakan prinsip untuk kebaikan orang banyak dan yang penting keputusan yang saya ambil jauh dari kepentingan pribadi. Sedangkan setelah mempelajari modul 3.1 ini saya lebih paham bagaimana langkah-langkah pengambilan keputusan secara tepat melalui beberapa tahapan dengan mempertimbangkan apakah masalah ini adalah dilemma etika atau lebih kepada bujukan moral, termasuk 4 paradigma pengambilan keputusan yang mana, 3 prinsip pengambilan keputusan yang mana masalah tersebut dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. 

Topik modul pembelajaran 3.1 ini sangatlah penting dikuasai seorang guru baik itu sebagai individu maupun sebagai seorang pendidik atau guru yang merupakan pemimpin pembelajaran. Sebagai seorang individu pastilah menghadapi masalah dalam kesehariannya sehingga dengan memahami konsep-konsep dan prinsip-prinsip pengambilan keputusan dalam modul ini sangat baik juga diterapkan karena seorang individu adalah pemimpin juga bagi dirinya sendiri. Bagaimana seorang individu dapat memimpin orang lain apabila dia sendiri tidak dapat memimpin dirinya sendiri? Guru sebagai pemimpin pembelajaran di kelas akan menghadapi sejumlah siswa yang memiliki berbagai karakter dan masalah tentunya memiliki problematika dalam pembelajaran dan didalamnya guru haruslah dapat mengambil keputusan yang baik untuk para siswanya yang sedang mengalami permasalahan. Belum lagi seorang guru juga selalu berinteraksi dengan rekan guru lainnya di dalam sebuah lembaga dan permasalahan pastinya akan muncul. Apabila setiap guru memiliki pengetahuan dan pemahaman materi ini tentunya akan menciptakan sebuah lingkungan pembelajaran yang nyaman dan kondusif karena setiap guru dapat melalui masalahnya dengan baik dengan keputusan yang telah dibuatnya.

Mengingat materi modul 3.1 ini sangatlah penting adalah hal yang patut untuk mengaplikasikan dalam menjalankan tugas saya sebagai guru, pemimpin pembelajaran di kelas saya. Langkah selanjutnya adalah saya ingin segera mendesiminasikan materi Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran ini. Tidak semua guru apalagi di lingkungan sekolah saya mendapatkan kesempatan untuk mempelajari materi seperti ini. Sebagai calon guru penggerak penulis ingin segera mendesiminasikan kepada rekan-rekan guru lainnya yang belum mendapatkan kesempatan belajar dengan materi yang sangat penting sebagai seorang guru masa kini. Apabila semua guru memahami dan dapat mengaplikasikannya mereka dapat menjalankan tugas dan kewajibannya dengan baik dengan demikian juga akan berdampak besar kepada para siswa dan lingkungan sekolah pada umumnya sehingga tujuan pembelajaran yang sebenarnya akan tercapai.


Tuesday, 17 August 2021

Apakah Budaya Positif Sekolah itu?

Budaya positif di sekolah adalah nilai-nilai, keyakinan dan kebiasaan di sekolah yang berpihak pada murid agar murid dapat berkembang menjadi pribadi yang kritis, hormat dan bertanggung jawab. Dalam mewujudkan budaya positif di sekolah guru memegang peranan penting dan memahami posisinya untuk mewujudkan budaya positif baik di kelas maupun di sekolah.

Refleksi tentang budaya positif di sekolah yang berpihak pada murid dan penerapan budaya positif di kelas adalah motivasi untuk melakukan perubahan positif di kelas maupun di sekolah. 

Dalam pembelajaran di kelas kesepakatan kelas diperoleh dengan menampung ide-ide siswa dan arahan guru.

Perubahan yang akan dilakukan:

  1. Kesepakatan kelas akan disusun dari ide-ide, harapan dari 2 arah yaitu guru dan siswa.

  2. Meningkatkan posisi kontrol sebagai guru manajer.

  3. Membuat kesepakatan kelas bersama siswa di awal tahun ajaran.

  4. Menerapkan disiplin positif di kelas yang berfokus pada perilaku positif siswa agar menjadi pribadi yang berbudi pekerti.

  5. Menetapkan kelas impian bagi siswa.

Langkah pertama yang dilakukan untuk menerapkan budaya positif di kelas:

  1. Menciptakan visi sekolah

  2. Menyusun dan membuat kesepakatan kelas.

  3. Membentuk lingkungan sekolah yang mendukung terciptanya budaya positif

Siapa sajakah yang dapat dilibatkan dalam perancangan dan pembentukan budaya positif di sekolah?

  • Komite sekolah

  • kepala sekolah

  • Guru

  • Siswa

  • orang tua siswa

  • karyawan sekolah

  • keluarga dan masyarakat.

Marilah kita tanamkan budaya positif sekolah sejak dini untuk mencapai profil pelajar Pancasila.

Video selengkapnya bisa diakses https://youtu.be/XLAZFJJ_xIM .


Contoh hasil kesepakatan kelas



Saturday, 14 August 2021

2.2.a.9. Koneksi Antar Materi - Pembelajaran Sosial dan Emosional

 Oleh: Prapti Wardani- CGP angkatan 2 Kota Surabaya



Pada fase akhir belajar calon guru penggerak (CGP) selalu ditugaskan menghubungkan materi modul dengan materi modul yang telah dipelajari sebelumnya. Begitu pula pada modul 2.2 ini tentang pembelajaran sosial dan emosional, CGP menghubungkan materi modul-modul yang telah diselesaikan sebelumnya yaitu modul 1.1, 1.2, 1.3, 1.4, dan 2.1. Modul 2.2 yang menjadi pusat pembahasan koneksi antar materi, penulis mencoba membuat bagan seperti gambar di atas dan meletakkan materi modul 2.2 pembelajaran sosial emosional di tengah bagan sebagai pusat koneksi materi yang dihubungkan.

Sebagaimana dicetuskan oleh Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara (KHD),  bahwa maksud pendidikan itu adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia, maupun anggota masyarakat. Pernyataan ini tertuang dalam modul 1.1 pembelajaran CGP refleksi filosofi pendidikan Indonesia yang memiliki kaitan erat dengan pembelajaran sosial emosional materi modul 2.2. Untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan anak didik tidaklah cukup dengan memberikan ilmu pengetahuan tinggi. Bagaimana anak didik memiliki kemampuan kognitif yang tinggi tetapi tidak memiliki kemampuan sosial emosional tentulah sulit dicapai untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan. Memiliki kecerdasan intelektual tidak cukup menjadikan seseorang akan menjadi sukses, karena disaat anak didik tidak memiliki sosial-emosional yang baik maka mereka tidak dapat melakukan interaksi yang baik pula dengan orang lain. Demikian sebaliknya disaat sosial emosional baik maka mereka akan dapat mengatur segala macam emosi (sedih, gembira, haru, tawa, simpati, empati) yang keluar di waktu yang tepat. Maka dengan demikian Kesuksesan tidak hanya didapatkan dari pendidikan yang tinggi atau kemampuan kognitif  yang tinggi saja tetapi diiringi dengan kemampuan sosial-emosional yang baik sehingga dengan demikian mereka akan bermanfaat bagi orang-orang yang ada disekitarnya.

Keterkaitan modul 1.2 nilai dan peran guru penggerak dengan pembelajaran sosial emosional materi modul 2.2 adalah bahwa guru penggerak yang mengemban tugas sebagai pemimpin pembelajaran harus juga menguasai kompetensi sosial emosional. Perannya yang sangat penting untuk menggerakkan perubahan pendidikan akan melibatkan berbagai stakeholder maupun peserta didik menuntut guru penggerak menguasai 5 kompetensi sosial emosional yang dapat dikembangkan yaitu: 1. Kesadaran diri; 2. Pengelolaan diri; 3. Kesadaran sosial (Empati); 4. Keterampilan sosial (Resiliensi) dan 5. Pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. 

Dampak dari keberhasilan dalam penerapan KSE (Kompetensi Sosial Emosional) bagi seorang guru penggerak tidak hanya pada kesuksesan diri sendiri namun juga memberikan pondasi yang kuat untuk berperan dalam pendidikan sekitarnya namun  dalam berbagai area kehidupan mereka di luar akademik (CASEL ORG). Dengan demikian  dapat disimpulkan bahwa pembelajaran sosial emosional dapat dilatih dan ditumbuhkembangkan di luar pembelajaran, terintegrasi dalam pembelajaran dan menjadi budaya atau aturan sekolah sehingga dapat menciptakan well-being dalam ekosistem pendidikan yang sejalan dengan filosofi Ki Hajar Dewantara. Melalui latihan kesadaran penuh secara konsisten dapat menumbuhkan kesadaran diri, penghargaan terhadap perbedaan dan empati, pemahaman diri dan orang lain, serta kemampuan dalam menghadapi berbagai tantangan dengan karakteristik yang berbeda-beda.

Keterkaitan antara materi pembelajaran sosial emosional berkaitan dengan modul 1 dan 2.1. Modul 2.2 pembelajaran sosial emosional berkaitan dengan modul-modul lain yang telah dipelajari sebelumnya bahwa dalam menjalankan nilai dan perannya sebagai guru penggerak, maka seorang guru penggerak haruslah memiliki kemandirian, reflektif, kolaboratif, inovatif  serta berpihak pada murid. Guru penggerak juga harus menggunakan segala kekuatan dan potensi yang ada untuk membangun budaya positif di sekolah. Budaya positif yang dikembangkan hendaknya dapat mendorong pemenuhan kebutuhan belajar siswa sesuai dengan kodrat yang dimilikinya. Hal ini senada dengan filosofi KHD yakni pendidikan itu harus berjalan sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman).

Jika pembelajaran sosial emosional dengan pendekatan berkesadaran penuh (mindfulness) menjadi budaya positif di sekolah maka pembelajaran berdiferensiasi akan lebih mudah diterapkan karena peserta didik dapat lebih fokus, semangat, bertanggung jawab terhadap tugas dan pekerjaannya. Hal ini tentunya akan membahagiakan mereka karena pembelajaran yang disajikan  sesuai dengan .kebutuhan belajar, minat dan profil mereka.

Melalui pembelajaran berdiferensiasi dan pembelajaran sosial emosional  juga diharapkan dapat mewujudkan profil pelajar pancasila. Maka dengan demikian terwujudlah insan-insan yang cerdas dan berkarakter yang pada akhirnya berujung dengan melahirkan berbagai kebijaksanaan